Minggu, 15 09 2019 Redaksi - Disclaimer - Pedoman Berita Siber - Tentang Kami - Info Iklan - Indeks Berita
 
Dua Kali Tolak Panggilan Polisi, Akhirnya Edy Suryanto Masuk DPO Polda Riau

Senin, 09-09-2019 - 15:02:05 WIB

 
"Benar. Tersangka ES masuk daftar pencarian orang (DPO) sejak tanggal 5 September 2019," ujar Kabid Humas Polda Riau Kombes Pol Sunarto ketika dikonfirmasi wartawan, Senin (9/9/2019).

TERKAIT:
 
  • Dua Kali Tolak Panggilan Polisi, Akhirnya Edy Suryanto Masuk DPO Polda Riau
  •  

    PEKANBARU, BERAZAM-Kepolisian Daerah (Polda) Riau menetapkan mafia tanah Edy Suryanto, sebagai DPO (daftar pencarian orang) dalam kasus pemalsuan SKGR dan penyerobotan lahan di Tenayan Raya, Pekanbaru.

    Edy Suryanto ditetapkan sebagai tersangka pada 7 Mei 2019 bersama mantan Camat Tenayan Raya, Daryuzar. Namun sudah dua kali dipanggil untuk menjalani pemeriksaan sebagai tersangka tak pernah datang memenuhi panggilan penyidik Polda Riau.

    "Benar. Tersangka ES masuk daftar pencarian orang (DPO) sejak tanggal 5 September 2019," ujar Kabid Humas Polda Riau Kombes Pol Sunarto ketika dikonfirmasi wartawan, Senin (9/9/2019).

    Penetapan DPO Edy Suryanto dalam kasus SKGR palsu tersebut sesuai surat Polda Riau nomor: DPO/68/IX/2019/Reskrimum tertanggal 6 September 2019 yang ditandatangani oleh Plh Direskrimum Polda Riau AKBP Dr Azwar SH MSi.

    Dalam surat DPO tersebut disebutkan, Edy Suryanto disangkakan melanggar pasal 263 ayat (2) KUH Pidana yakni tindak pidana pemalsuan surat dengan cara menggunakan surat SKGR yang diduga palsu di atas tanah milik Lukman Abbas dkk.

    Pengacara Lukman Abbas, Muslim Amir,SH, kepada wartawan, Senin (9/9/2019) siang membenarkan bahwa Edy Suryanto masuk Daftar Pencarian Orang (DPO) Polda Riau. "Iya, kami sudah mendapatkan tembusan surat DPO tersangka," kata Muslim Amir.

    Muslim juga mengatakan mendukung gerak cepat penyidik Polda Riau yang menerbitkan surat DPO Edi Suryanto. "Kita berharap yang bersangkutan [Edy Suryanto] segera ditemukan dan ditahan untuk proses hukum selanjutnya. Dan jika ada indikasi untuk melarikan diri ke luar negeri, pihak imigrasi bisa melakukan pencekalan," kata Muslim.

    Mangkir Dua Kali Dipanggil

    Seperti diberitakan sebelumnya, tersangka Edi Suryanto terancam dijemput paksa polisi, menyusul tidak diindahkannya dua kali panggilan pihak Polda Riau untuk pemeriksaan kasus pemalsuan dan penyerobotan tanah seluas 12 hektar milik Lukman Abbas di Tenayan Raya, Pekanbaru.

    Edi sendiri sudah ditetapkan Polda Riau sebagai tersangka dugaan kasus pemalsuan surat tanah pada 7 Mei 2019 bersama mantan Camat Tenayan Raya, Daryuzar.

    Pasca-penetapan sebagai tersangka, Edy Suryanto sempat melakukan upaya hukum dengan mempraperadilkan Polda Riau di PN Pekanbaru. Namun kemudian ditolak dan PN Pekanbaru justru memperkuat penetapan tersangka yang telah dilakukan Polda Riau, sesuai dengan putusan PN Pekanbaru nomor 08/Pid.Prap/2019/PN Pbr. pada tanggal 4 Juli 2019.

    Dalam amar putusannya, Hakim Praperadilan PN Pekanbaru Estiono,SH,MH, menyatakan menolak permohonan praperadilan pemohon (Edi Suryanto), dan juga memutuskan bahwa penetapan tersangka terhadap pemohon (Edi Suryanto) yang dilakukan termohon (Polda Riau) sebagaimana tercantum pada surat panggilan nomor: S.Pgl/443/VI/2019/Reskrimum, tanggal 13 Juni 2019 adalah sah secara hukum.

    Pemalsuan Tanda Tangan

    Kasus yang menyeret Edy Suryanto untuk kesekian kalinya ke ranah hukum
    tersebut, menurut Muslim, terjadi pada tahun 2018 silam. Tanah milik Lukman Abbas seluas 12 hektar di Jalan 70 Kelurahan Industri Tenayan Raya Kecamatan Tenayan Raya Pekanbaru dengan status SKGR yang dibelinya pada tahun 2009, telah diklaim oleh Edi Suryanto sebagai miliknya yang menurut pengakuannya dibeli dari Tengku Makmur (almarhum).

    Namun faktanya, tanah tersebut tidak pernah dijual Lukman Abbas kepada Edy Suryanto. Penyelidikan yang dilakukan Polda Riau terhadap kasus dugaan pemalsuan lahan yang dilaporkan korban tersebut kemudian menemukan adanya dugaan tindakan pemalsuan dokumen surat tanah pada SKRG a n.Edy Suryanto.

    Hasil pemeriksaan uji laboratorium di Lab Forensik Medan yang diminta penyidik Polda Riau terhadap surat SKGR a.n. Edi Suryanto juga menyatakan adanya ketidaksesuaian tanda tangan sejumlah saksi di surat tanah tersebut, termasuk tanda tangan Lukman Abbas.

    Dari hasil penyelidikan dan pemeriksaan yang dilakukan Polda Riau terhadap 18 saksi, penyidik kemudian meningkatkan status kasus tersebut menjadi penyidikan serta menetapkan Edi Suryanto sebagai tersangka karena diduga keras melakukan tindak pidana pemalsuan dan penyerobotan tanah sesuai pasal 263 dan atau pasal 385 KUHP.

    Namun Suryanto yang kemudian dipanggil penyidik untuk menjalani pemeriksaan sebagai tersangka tak pernah datang memenuhi panggilan. "Sudah dua kali dipanggil tersangka belum memenuhinya," kata Pengacara Lukman Abbas, Muslim Amir,SH.

    Edi Suryanto pertama kali dipanggil penyidik pada 13 Juni 2019 namun tidak memenuhi panggilan tersebut. Begitu juga panggilan kedua pada tanggal 21 Juni 2019. Justru Edi kemudian malah mengajukan permohonan praperadilan terhadap penetapan dirinya sebagai tersangka.*

    bazm2



     
    Berita Lainnya :
  • Dua Kali Tolak Panggilan Polisi, Akhirnya Edy Suryanto Masuk DPO Polda Riau
  •  

    Komentar Anda :