Rabu, 21 08 2019 Redaksi - Disclaimer - Pedoman Berita Siber - Tentang Kami - Info Iklan - Indeks Berita
 
Profil Tokoh
Yulian Norwis di Kancah Pemerintahan: Dari Honorer Hingga Manajer

Minggu, 28-07-2019 - 23:35:11 WIB

 
Yulian Norwis bersama istri dr Iriani MSc serta kedua putra putri: dr Atika Fitri dan Naufal Rahmatsyah

TERKAIT:
 
  • Yulian Norwis di Kancah Pemerintahan: Dari Honorer Hingga Manajer
  •  

    Meranti, Berazam-Yulian Norwis SE MM lahir di Selat Panjang, 29 November 1961. Ia merupakan anak dari buah pernikahan Ali Akbar dengan Siti Hawa (keduanya sudah menghadap sang Khalik).

    Ayahnya adalah seorang purnawirawan Polri, sementara Ibunda nya hanya Ibu rumah tangga.

    Masa kecil Yulian Norwis ia habiskan di Bengkalis. Di negeri junjungan itu pria yang akrab disapa dengan panggilan Icut ini, menyelesaikan pendidikan dasar di SD Negeri 1 Bengkalis, tamat tahun 1973.

    Tiga tahun kemudian, pindah ke Dumai dan menyelesaikan pendidikan di SMPN 1 Dumai tahun 1976. Di kota minyak ini juga pendidikan SMA nya Ia selesaikan di SMA Negeri 1 Dumai tahun 1981.

    Setelah itu, Yulian merantau ke Jakarta dan menempuh pendidikan tingkat Diploma III di Akademi Accounting Universitas Jayabaya Jakarta, lulus tahun 1986. Dua tahun kemudian lulus menjadi Sarjana Akuntansi di Universitas Jagakarsa.

    Tak cepat berpuas diri, Yulian melanjutkan pendidikan S2 jurusan Manajemen Pemasaran di STIE IPWUA dan sukses meraih gelar Magister Manajemen (MM) pada tahun 2003.

    Namun sebelum meraih gelar itu, Yulian sudah bekerja sebagai staf administrasi (honorer) Proyek PRPTE 1987-1989, di Direktorat Jenderal Perkebunan Departemen Pertanian Jakarta.

    Dua tahun kemudian (1989-1990) diangkat menjadi staf Dubdit PTO CCPNS II/b Ditjen Perkebunan Departemen Pertanian Jakarta.

    Tahun 1990 diangkat menjadi staf Ditjenbun dan diperbantukan di Dinas Perkebunan Kalimantan Barat di Pontianak hingga tahun 1996.

    Selesai dari Kalbar, diangkat menjadi Sekpri Sesdit Ditjenbun Departemen Pertanian dari 1996-1998.

    Kemudian tahun 1998-2000 ditempatkan di Sekretariat Komite Reformasi Dephutbun Ditjen P2HP Departemen Pertanian Jakarta
    Lalu, tahun 2000 hingga 2002 menjadi staf pengolahan dan pemasaran Hortikultura ditempat yang sama.

    Karir Yulian terus meningkat dan pada tahun 2005-2007 dipercaya sebagai Kasubag Rumah Tangga dan Perlengkapan juga di tempat yang sama.

    Setelah itu, ia kemudian dipercaya sebagai Kepala Bagian Umum Ditjen Perkebunan Departemen Pertanian tahun 2007-2009. Tahun 2009 hingga 2011 diberi amanah menjadi Kabid Administrasi Keuangan Gernas Kakao Ditjen Perkebunan Departemen Pertanian Jakarta.

    Tahun 2011-setelah 24 tahun lamanya merantau dan mengabdi bagi Negara di Jakarta-, barulah Yulian pulang ke kampung halaman. Ketika itu Kabupaten Kepulauan Meranti baru dimekarkan dan pisah dari induknya: Kabupaten Bengkalis.

    Bupati kepulauan Meranti Irwan Nasir ketika itu melihat sosok Yulian punya potensi besar yang dapat membantu nya membangun kabupaten Meranti yang penuh dengan tantangan.

    Selain itu, Yulian dinilai mampu membuka akses ke departemen untuk melakukan lobi-lobi program pusat untuk daerah, karena dia lama berkiprah di Jakarta, yang sudah barang tentu memiliki jaringan yang luas.

    Yulian pun memulai pekerjaan baru dengan jabatan sebagai Sekretaris Dinas Pertanian, Peternakan dan Ketahanan Pangan dari tahun 2011-2012. Setahun kemudian diangkat menjadi Kepala Dinas Pertanian, Peternakan dan Ketahanan Pangan hingga 2016.

    Sukses memimpin Dinas, tahun 2016 hingga 2017 diangkat menjadi Plt Sekretaris Daerah. Dan puncaknya tahun 2017 hingga sekarang dipercaya sebagai Sekdakab kabupaten Meranti. Sebuah jabatan puncak atau tertinggi di pemerintahan daerah.

    Sekda yang Merakyat

    Jabatan Sekretaris Daerah bagi Yulian bukan segalanya. Karena kata dia jabatan itu hanya bersifat sementara yang dititipkan Tuhan yang Maha Kuasa Allah SWT untuk dijalaninya sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya sebagai abdi negara.

    Meskipun menurut sebagian orang jabatan Sekda adalah jabatan bergengsi, tapi tidak bagi Yulian. "Justru dengan jabatan ini banyak tantangan baik kedalam maupun keluar. Sebagai Sekda atau seorang manajer saya dituntut untuk memenej atau mengelola tata pemerintahan yang baik dan berintegritas. Membangun budaya kerja yang dilatari dengan disiplin bagi seluruh ASN maupun non ASN yang ada di Meranti," ucap Yulian.

    Itu tantangan kedalam atau internal. Belum lagi keluar (eksternal), "saya juga harus bermasyarakat, harus mampu menjadi orang tua atau penengah mana kala ada masalah di tengah masyarakat," ujarnya.

    Jadi, kata Yulian, jabatan apapun yang diberikan, harus dikerjakan dengan sepenuh hati, tidak boleh ragu ragu atau setengah setengah. Karena selain dipertanggungjawabkan secara manusia, juga dipertanggungjawabkan kelak kepada Allah SWT.

    "Itu hukum nya secara alamiah. Jadi tidak boleh main-main dengan jabatan apalagi menyangkut kepentingan masyarakat, saya sangat hati hati dan tetap meminta petunjuk Allah SWT dalam setiap mengambil keputusan," ucap Yulian.

    Apa yang dikatakan Yulian memang benar adanya. Selama menjabat Sekda, dia telah membuktikan ucapannya itu. Kebijakan kebijakan nya pun mendapat dukungan dari seluruh pegawai yang ada di Meranti.

    Selain itu, Yulian juga sangat pandai membangun dan merawat silaturahmi dengan berbagai elemen masyarakat. Dia misalnya, tak segan segan nongkrong sambil minum kopi di warung kaki lima atau pinggiran bersama masyarakat serta tokoh tokoh mulai dari pemuda hingga para tokoh tua dari berbagai kalangan etnis dan lintas agama yang ada di kabupaten kepulauan Meranti. Semua itu dia lakukan diluar jam kerja.

    "Kalau jam kerja ya harus bekerja. Kita kan sudah digaji negara dengan uang rakyat," jelasnya.

    Tak heran jika banyak yang menyebut Yulian adalah sekda yang tidak hanya merakyat kedalam, tapi juga merakyat ke luar.

    "Beliau [pak Sekda] sangat bermasyarakat dengan para tokoh masyarakat yang ada di Meranti. Orangnya tidak memilah milah dalam berteman dan kapan saja selama itu diluar jam kerja, beliau mau diundang berdiskusi sambil ngopi. Dan yang paling membuat kita senang, adalah selalu ada jalan keluar dari beliau manakala ada masalah yang muncul," kata Zainun tokoh masyarakat Meranti belum lama ini.

    Buah Jatuh Tak Jauh Dari Pohonnya

    Ibarat buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Yang artinya: Sifat anak tidak jauh berbeda dengan Ayah atau Ibunya. Hal yang menurun dari leluhurnya pasti akan ada kemiripannya dengan orang tuanya.

    Peribahasa ini sepertinya berbanding lurus dengan Yulian Norwis dan istrinya Dr Iriani MSc. Keluarga kecil nan bahagia ini dikaruniai sepasang anak (satu perempuan dan satu laki laki).

    Atika Fitri adalah anak sulungnya, kini sudah menjadi dokter dan telah berusia 22 tahun. Saat ini Atika mengabdi di RSUD Kabupaten Kepulauan Meranti. Sedangkan anak kedua,
    Naufal Rahmatsyah kini tengah menjalani kuliah semester 3 di IPB Bogor.

    "Alhamdulilah semua anak saya masuk perguruan tinggi lewat jalur siswa panggilan SMNPTN," tutur Yulian bangga.

    Menariknya, Atika Fitri adalah juara satu pemilihan bujang dara kabupaten Kepulauan Meranti. Dan tanggal 1 Agustus mendatang akan mewakili kabupaten Meranti dalam ajang yang sama untuk tingkat Provinsi Riau.

    Pendidikan kata Yulian adalah merupakan hal yang penting bagi anak-anak. Sebab tanpa itu, dunia ini serasa gelap.

    "Tapi saya lebih suka mengibaratkan pendidikan itu adalah air. Air yang akan melepaskan dahaga atas ilmu pengetahuan. Air yang akan menumbuhkan tunas-tunas baru di masa depan. Dan air yang hanya akan menjadi bencana jika tidak diatur sedemikian rupa, dari hulu sampai hilirnya," kata Yulian.

    Oleh sebab itu, kata pria yang digadang-gadang jadi Calon bupati Meranti ini, pendidikan menjadi tanggungjawab bersama, mulai dari orangtua hingga pemerintah mesti satu visi dan persepsi betapa pentingnya pendidikan demi masa depan generasi penerus untuk melanjutkan pembangunan mulai dari skala daerah hingga nasional demi kepentingan bangsa dan Negara.

    "Termasuk di kabupaten kepulauan Meranti yang posisinya berada di pulau-pulau terluar dengan banyaknya rintangan karena kondisi geografis, pendidikan tetap menjadi prioritas utama kedepan. Dengan demikian, akan tumbuh generasi yang kuat yang memiliki sumber daya dalam berbagai bidang kehidupan demi tercapainya cita-cita dan mimpi sebuah daerah yang maju dan bermartabat," pungkas Yulian Norwis.

    bazm2



     
    Berita Lainnya :
  • Yulian Norwis di Kancah Pemerintahan: Dari Honorer Hingga Manajer
  •  

    Komentar Anda :