Minggu, 15 Desember 2019 Redaksi - Disclaimer - Pedoman Berita Siber - Tentang Kami - Info Iklan - Indeks Berita
 
KALAM DR. H. SYAFRIADI
Penulis: Dosen Fakultas Hukum Universitas Ialam Riau
Oleh: Syafriadi
MTQ (di) Kampar
Selamat Datang Gubri
Pers dalam Negara Demokrasi
Fenomena Politik Diambang Suksesi
Marhaban ya Ramadhan
Ketika ‘Si Kancil’ Berazam
Nasibmu Riauku
 
Selamat Datang Gubri
Jumat, 22-02-2019 - 22:44:27 WIB

"Selamat Datang", Pak Syamsuar dan Pak Edy Natar Nasution. "Selamat menjalankan tugas". Dua kalimat itu, diucapkan masyarakat usai kedua tokoh itu dilantik sebagai Gubernur Riau dan Wakil Gubernur Riau 2019-2024 oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara Jakarta, Rabu pagi (20/2 2019).

Tak ada yang istimewa. Pelantikan hal biasa. Rutin. Sekali lima tahun. Ada yang pergi, ada yang datang. Wan Thamrin Hasyim berakhir dan pergi. Syamsuar dan Edy datang. Keduanya menempati rumah jabatan. Rumah Gubernur di Gedung Daerah Jalan Diponegoro. Rumah Wakil Gubernur di Jalan Sisingamangara Pekanbaru.

Kali ini saya angkat topi kepada Wan Thamrin. Sejak dilantik menjadi Gubri antarwaktu 11 Desember 2018 ia menyelesaikan sejumlah agenda yang terbengkalai. Ia ukir tinta di batu prasasti Jembatan Siak IV. Juga di dua fly over. Fly over Simpang SKA dan fly over Pasar Pagi Arengka. Ukiran lain tentu banyak.

Tiga bulan menjabat. WTH meninggalkan kesan positif. Ia menunjukkan profilenya sebagai pamong senior. Sebagai mantan bupati berpengalaman. Tak ada pandangan skeptis atas dirinya. Mungkin tenggat waktu yang tiga bulan, membuat WTH harus menggesa tugas tanpa menyisakan pekerjaan rumah.

Syamsuar dan Edy masuk. Ia tak memulai dari nol. APBD juga sudah diketok palu. Tinggal melaksanakan. Lepas dari soal kegiatannya disusun di masa pemerintahan WTH, setidaknya Syamsuar-Edy dah bisa mengayun tangan. Menata langkah. Mensolidkan kabinet mewujudkan harapan dan impian. Mentunaikan janji kampanye tahap demi tahap. Sesuai prioritas.

Jangan pesimis. Semua butuh waktu. Semua tak seperti membalik telapak tangan. Kita beri kedua tokoh itu ruang bernafas. Tiga bulan terlalu cepat. Enam bulan juga belum akan kelihatan hasil. Satu tahun agaknya waktu yang proporsional menilai, apakah Syamsuar-Edy benar-benar on the track. Atau sebaliknya. Mereka terjebak rutinitas.

Riau bukan provinsi unik. Warganya juga bukan penduduk yang sulit diatur. Orang menyebut, daerah ini negeri yang kaya. Sumberdaya alamnya puluhan tahun menyumbang ke devisa negara. Riau bukan provinsi yang tidak punya sumberdaya manusia. Bupati dan walikota di privinsi ini tak satu pun figur import. Semua anak jati Riau. Mereka membangun daerah masing-masing. Aparatur pemerintahannya juga anak-anak daerah.

Lalu apa yang kurang? Tak ada. Cuma lobi dan kemauan politik yang tidak menggigit. Anggota DPD dan DPR RI nya tak berkutik berjuang untuk daerah.
Begitu pun pemprov dan DPRD. Tak  bergreget. Jadi, jangan heran mengapa embarkasi haji gagal dibuka di Riau. Itu kisah lalu. Sudahlah.

Lupakan semua. Tak elok meratap. Tak ada guna memutar jarum. Kita tatap  masa depan. Bersama Syamsuar dan Edy Natar, kita bisa.

Syamsur birokrat tulen. Meniti karier dari bawah. Menjadi sekretaris daerah. Kemudian wakil bupati. Lalu bupati. Sekarang gubernur. Klop laluan karier putera Melayu ini. Beda dengan Edy.  Ia tentara dengan pangkat brigadir jenderal. Performantnya menjadi wagub sudah tercium jauh sebelum jadi Komandan Koram 031/Wirabima. Dia juga tentara yang agamis. Kita yakin. Perpaduan Syamsuar dan Edy akan membawa Riau cemerlang, gemilang dan terbilang. Semoga, aamiin.*

[]Penulis: Penjab berazamcom

KALAM DR. H. SYAFRIADI
Penulis: Dosen Fakultas Hukum Universitas Ialam Riau