Selasa, 11 08 2020 Redaksi - Disclaimer - Pedoman Berita Siber - Tentang Kami - Info Iklan - Indeks Berita
 
Dimana Hasil Bumi Dan Laut Rohil

Rabu, 11-12-2019 - 17:46:02 WIB

 
Jhony Carles saat menyerahkan berkas pendaftaran sebagai calon bupati di sekretariat Partai Hanura

TERKAIT:
 
  • Dimana Hasil Bumi Dan Laut Rohil
  •  

    Rohil, Berazamcom - Hasil bumi dan laut Kabupaten Rokan Hilir (Rohil), begitu melimpah. Seperti hasil perkebunan sawit misalnya hampir di semua Kecamatan terdapat tanaman sawit dengan jumlah ribuan hektar. Hasil pertanian, padi, palawija dan lainya juga melimpah. Sementara  hasil laut ikan begitu banyak kerang alami dan tambak begitu besar dan ikan air tawar juga tak kalah besarnya. Namun, sejauh ini hanya pihak luarlah yang menjadi raja penikmat. Sementara orang tempatan hanya mendapatkan sebagian kecilnya saja dari hasil bumi dan laut ini. 

    Kenapa begini, dan apakah kondisi ini harus dibiarkan berterusan dan membiarkan pihak-pihak luar terus menggerogoti dan meraut keuntungan besar dari hasil dan jerih payah hasil keringat petani dan nelayan kita, jawabannya ada pada kita semua. Salah satu tokoh pemuda yang akan tampil bertarung pada pemilihan bupati dan wakil bupati Rohil pada 2020 mendatang, Jhony Carles BBA MBA turut menyoroti kondisi ini.

    Saat ditemui usai mengembalikan formulir pendaftaran sebagai calon bupati di sekretariat Partai Hanura jalan Utama Bagansiapiapi, Rabu (11/12) Priya kelahiran  Kecamatan Tanah Putih ini mengaku prihatin dengan kondisi tersebut. Menurutnya ada inkam dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari hasil bumi dan laut ini. Pertanyaannya, kenapa dibiarkan.

    Kemudian nama Rohil akan di kenang sebagai penghasil ikan bila dimanfaatkan. "Kita tentu tidak mau daerah kita hanya dikenal sebagai daerah penghasil ikan belaka. Namun, bagaimana bukti nyatanya itu yang kita tampilkan dengan menjadikan daerah kita sebagai daerah yang menghasilkan ikan terbesar. Begitu juga dengan hasil kerang kita. Jangan sampai nanti kerang kita di cliem sebagai hasil kerang Tanjung Balai. Kita yang punya kerang kok Tanjung Balai yang dapat nama," celotehnya.

    Kemudian pemasarannya jangan ada monopoli. Tak perlu disingung cetusnya yang jelas harus ada Uep nya dan harus abgret dan onlaine terus. "Itulah yang menghubungkan antara Bayer dan produser. Masak kita tidak bisa hadir sebagai Pemda di situ, apa susahnya. Saya rasa rekrut saja tenaga it empat lima orang udah jalan dan bahkan ini tidak mengeluarkan kos yang besar. Tapi masyarakat terbantu, karena jika sempat bayernya monopoli harga di kontrol oleh monopoli. Kalau harganya sudah di umumkan secara onlaine itu bayernya bisa sepuluh ataupun ratusan. Tentu harga tertingilah yang kita jual," paparnya.

    Nah, siapa yang diuntungkan, tentu masyarakat dan tidak menutup kemungkinan Pemda juga turut diuntyngkan. Kenapa, karna itu Pad. "Saya hanya memberikan pemikiran yang masuk di akal saja," terangnya sembari menjelaskan begitu juga dengan hasil bumi. Berbalik beberapa tahun terakhir tepatnya di zaman kepemimpinan H Annas Maamun. Rohil saat itu pernah dijuluki sebagai daerah penghasil gabah terbesar di Riau dan daerah surplus beras terbesar di Indonesia khususnya Riau. Namun, nama itu kian lama kian redup.

    Hal ini tak lepas dari maraknya alih fungsi laha dari padi ke tanaman keras sawit. Namun, kendati jumlah lahan perkebunan begitu besar hampir di semua kecamatan petani masih saja menjerit karna harga Tandan Buah Segar (TBS) yang tak menentu lebih sering turun ketimbang naik. Bahkan harganya sampai menembus Rp300/ kilogramnya seperti yang dialami petani di kecamatan Bangko dan Sinaboi. Inilah permainan pasar yang dimanfaatkan oleh pihak luar yang mengambil keuntungan dari hasil keringan petani lokal. Tanya diri kita apakah harus dibiarkan berterusan. Siapa yang untung dan apa jadinya dengan daerah dan masyarakat kita Rohil. *

    []bazm-11



     
    Berita Lainnya :
  • Dimana Hasil Bumi Dan Laut Rohil
  •  

    Komentar Anda :