Sabtu, 08 08 2020 Redaksi - Disclaimer - Pedoman Berita Siber - Tentang Kami - Info Iklan - Indeks Berita
 
OPINI
Oleh: Indra Gunawan (Mahasiswa STAI- Sumbar)
Partisipasi dan Gerakan Politik Kaum Milineal
Oleh: Muhammad Yasir
Media Berperan Jaga Bahasa Indonesia dari Kehancuran
Oleh: Irwan E. Siregar
Bahasa Kyai Slamet
Oleh : Kamsul Hasan Pemerhati Media Massa/Wartawan Senior
Pendataan atau Verifikasi Faktual?
Rusuh Berlatar Rasisme di Amerika Serikat
Oleh: Cifebrima Suyastri (Dosen Fisipol HI UIR)
Magnet Politik Petahana Menuju “Kuansing 2020” atau ,,,,, ?
Cifebrima Suyastri (Dosen Fisipol HI UIR)
Belajar dari Taiwan: "Dinilai Negara yang Sukses Redam Corona”
Dendam Ilmiah Catatan Dahlan Iskan
 
Cifebrima Suyastri (Dosen Fisipol HI UIR)
Belajar dari Taiwan: "Dinilai Negara yang Sukses Redam Corona”
Minggu, 05-04-2020 - 15:33:32 WIB

Taiwan adalah sebuah pulau di Asia Timur. "Taiwan" sering pula dipergunakan untuk merujuk kepada wilayah yang diperintah oleh Republik Tiongkok, kenapa judul tulisan ini “belajar dari Taiwan? Karena menarik bagi penulis ulas apalagi di saat ada pertanyaan-pertanyaan yang merasa khawatir, dan masa-masa Work From Home , Stay At Home sekarang ini, tak lain akibat dari wabah virus yang asalnya dari kota Wuhan (Republik Tiongkok) otomatis pikiran langsung terkoneksi dengan Taiwan, penulis sendiri sempat belajar kurang lebih selama 2 bulan di Negara kecil ini, sejak tanggal 9 Desember- 17 Januari 2020 melalui program Beasiswa Pre Doctoral yang full Funded (dibiayai sepenuhnya dari Kemenristekdikti). Wabah virus ini pun menyebar setelah penulis beberapa hari kembali ke Indonesia, tentu banyak hal yang bisa menjadi pelajaran menarik sehingga mencoba mengingat apa saja hal yang menjadi perhatian penulis selama di Taiwan sehingga merasa safety saat kembali berkumpul bersama keluarga.
Saat pra keberangkatan peserta yang mendapat beasiswa tersebut ada 20 orang se-indonesia yang terdiri dari dosen-dosen PTN dan PTS, dilakukan meeting point dulu di Jakarta sehari sebelum terbang ke Taiwan, ada hal yang menarik ketika closing Statement dari pihak kemerintekdikti “ selamat menikmati hidup sehat selama di Taiwan”.  Dan ini memang benar adanya, kita memang merasa sangat fit dan sehat selama mengikuti program yang jadwalnya cukup padat dan full, selama kita di sana untuk transportasi bolak-balik dari dormitory ke kampus menggunakan sepeda.
Saat datang di Taiwan kita menyebar sesuai dengan Kampus yang di pilih, kami ada 11 orang di National Dong Hwa University (NDHU) yang terletak di distrik Shoufeng, sekitar 15 menit perjalanan dengan bus dari Kota Hualien, NDHU merupakan kampus yang dikelilingi pegunungan dan Danau-danau buatan yang indah. NDHU juga merupakan kampus terbesar di Taiwan yang mendapat kucuran dana 3 M NT$ lebih, dengan lebih 10 ribu mahasiswa dari 55 negara yang belajar di kampus yang asri dan sejuk tersebut.




Rutinitas selama mengikuti program tersebut tentunya mengikuti ritme dan pola mahasiwa di negara itu, karena kami ini pendatang  banyak yang harus kami pahami terlebih dahulu terutama bagi yang muslim, mulai dari hal makanan yang halal tempat ibadah dll. Tidak bisa dipungkiri memang di awal agak kesulitan sebelum mengetahui tempat belanja dan pasar, penting bagi yang muslim untuk tetap menjaga kehalalalan apa yang dimakan, maka “harus memasak sendiri”. Dan ada hal yang menjadi penting di ingat dan pengalaman yang unik saat beberapa hari harus “become a vegetarian” disaat kita merasa was-was, dan di Hualien sendiri tidak harus khawatir karena cukup banyak restoran vegetarian di Taiwan. Karena ini juga hal yang perlu kita belajar dari Taiwan, kenapa bisa sehat karena rerata masyarakatnya sangat menjaga pola hidup sehat, ini point penting. Mereka tidur cepat pada malam harinya dan bangun di early morning karena start sekolah di sana di mulai jam 7 pagi waktu Taiwan sama dengan jam 6 pagi waktu di Indonesia dan ini menjadi kebiasaan untuk mereka bangun jam 4 pagi.

Pelajaran pertama : Keteraturan dan Kedisipilnan Masyarakat Taiwan

Ketaraturan adalah point penting belajar dari Taiwan, dalam hal ini catatan kecil penulis selama tinggal di Taiwan (9 Desember-17Januari 2020) yang menjadi perhatian di saat ketidakteraturan dan disiplin menjadi persoalan untuk negara kita.

Parkir teratur dan transportasi umum yang nyaman:  Keseragaman harga, dan pemisahan sampah organic dan non organik yang disiplin. Taiwan juga pernah memiliki arus transportasi yang tinggi dan kompleks, serta sistem transportasi yang beragam. Namun sejak beberapa tahun lalu sudah berhasil mengatasinya. Lalu lalang kendaraan dan pengguna jalan lainnya secara sadar sudah mengikuti ”rute”-nya sendiri-sendiri. Traffic light adalah hal lain yang sangat kentara terlihat di sepanjang ruas di Taiwan. “Ajaib”-nya, rambu pengatur lalu lintas ini begitu dihormati pengguna jalan. Tentu saja ini berimplikasi pada keteraturan di sepanjang jalan. (Taiwan) memang banyak sekali traffic light. Lalu lintas diatur oleh keberadaan rambu-rambu. Pemerintah yang membuat regulasinya dan masyarakat yang menjalaninya .Bahkan, kalaupun perjalanan ke Taiwan adalah kali pertama, kita tidak perlu khawatir untuk sekadar berjalan-jalan mencari udara segar. Angka kriminalitas di negara yang tenar akan teh oolong-nya ini sangat rendah.




Ada Hal menarik dalam pengaturan parkir saat kita berkendaraan secara mandiri baik bersepeda sekalipun, ada pemberlakuan parkir bergilir jalur kiri kanan yang di atur setiap bulan. Di saat kami datang sedang berlaku pakir di sisi sebelah kanan jalan jadi tidak ada yang parkir di kiri jalan, di bulan berikutnya posisi parkir di kiri jalan begitu selanjutnya bergilir tiap bulannya. Hal ini bisa juga sebagai sistem keadilan untuk memberi kesempatan bagi toko-toko yang berjualan. Point penting keteraturan akan berdampak pada banyak kebaikan-kebaikan.

Selain ditunjang lalu lintas yang “nyaman” dilihat, negara dengan mata uang new Taiwan dolar (NT$) ini juga didukung oleh sistem transportasi massal yang canggih. Dan ini juga mengurangi kemacetan di jalan raya. Sekitar 15 tahun terakhir, mass rapid transportation (MRT) menjadi tulang punggung mobilitas warga sehigga sedikit menggunakan kendaraan pribadi. MRT ini bisa berbentuk subway (kereta bawah tanah) atau di atas tanah. Menariknya. MRT telah sedemikian rupa terkoneksi dengan hampir semua shelter busway.
 



Praktis, setiap penumpang yang akan beralih ke rute lain, dapat dengan cepat “potong kompas”. Tidak heran jika orang-orang di Taiwan sangat menghargai waktu. Untuk transportasi jarak jauh, ada kereta mulai dari kelas ekonomi, bisnis, eksekutif, hingga kereta peluru yang supercepat (high speed rail). Disebut demikian karena kereta ini bisa menghemat perjalanan yang semestinya membutuhkan waktu 5 jam, menjadi hanya 1,5 jam.

Awesome! Praktis dan efisien, itu mungkin julukan lain dari Taiwan. Tak cukup dengan menyediakan MRT, pemerintah setempat juga menyediakan “Easy Going Card”.Ini adalah tiket elektrik berisi voucher dengan nilai tertentu dan bisa dipergunakan untuk membayar busway, subway, kereta api, bahkan tarif parkir dan berbelanja. Sehingga, bepergian ke mana pun tidak perlu lagi menghabiskan waktu untuk antre tiket.

 “Kartu ini secara otomatis akan terkurangi saldonya jika penumpang turun di setiap shelter atau stasiun pemberhentian,” Well, soal pasar malam night market yang menjadi wajib di dikunjungi bila ke taiwan, tidak perlu khawatir untuk berbelanja di Taiwan harganya seragam tidak perlu khawatir soal ketidak jujuran penjual, ini menarik juga di tiru taiwan sangat menjaga ke jujuran, harga di Taiwan seragam jadi tidak akan kita jumpai pedagang yang menaikan harga. Ada beberapa spot yang bisa kita jumpai. Di Shih-lin, Taipei, misalnya. Beraneka ragam kebutuhan disediakan di sini. Mulai dari pakaian nyentrik, up to date, kuliner, manisan, minuman, semua ada. Pernak-pernik cantik, sandal, sepatu, semua ada.



Foto; Shilin Market Taipe (Pasar malam)

Edukasi Pemisahan pembuangan sampah : Masyarakat di taiwan terbiasa memisahkan sampah organik dan non-organik. Di tempat makan ataupun tempat umum pasti tersedia 4 jenis tempat sampah untuk memisahkan keempatnya. Jenis tempat sampah akan lebih banyak ketika memasuki kawasan akademik seperti kampus. Jadi tidak heran kebiasaan hidup bersih sangat menjadi perhatian. Setiap orang pasti akan membawa tempat minum untuk refuiling karena setiap Gedung di kampus menyediakan dispenser air untuk isi ulang. Dan setiap selesai makan di kantin atau di restoran kita tidak akan menemui meja yang kotor karena setiap orang tidak akan meninggalkan sampah di meja, setiap orang akan membersihkan secara mandiri. Ada hal lain yang menarik yakni truk untuk mengangkut sampah di sana memiliki suara dengan nada khas sepanjang jalan. Nada tersebut menandakan truk sampah telah datang sehingga masyarakat bisa membuang sampah secara mandiri langsung ke truk sampah. Pembuatan sampah yang dipilah dan membuang sampah secara mandiri perlu diteladani dan kita tiru.




Pelajaran ke dua :Bagaimana Taiwan saat masa pandemic Virus

Taiwan memang negara kecil, tetapi terbukti bisa menyumbangkan hingga 10 juta masker ke negara-negara yang lebih besar di masa pandemi Virus dan termasuk one of only 6 countries on Earth where schools are open. Pemerintah Taiwan dalam pencegahan epidemi sejak dini yang mendahului Jepang, Korea Selatan, dan Eropa. Sebelum kasus epedemi ini menyebar luas Taiwan mengambil langkah preventif yakni pertama: mendirikan pusat komando epidemi pada tanggal 20 januari 2020 untuk menangani upaya pencegahan epidemi nasional, ini merupakan kunci penting keberhasilan penyebaran epidemi di Taiwan. Kedua : belajar dari pengalaman memerangi SARS tahun 2003 lalu, Taiwan langsung menyadari bahwa masker adalah benda anti-epidemi yang di incar masyarakat, maka untuk menghemat arus keluar barang, pada tanggal 24 Januari Pemerintah Taiwan mengumumkan untuk sementara waktu melarang masker dan hand sanitizer medis di ekspor ke luar negeri. Untuk memungkinkan semua orang bisa membeli masker dan mencegah orang menimbun masker, pemerintah Taiwan telah menerapkan "Sistem Identitas Asli untuk Pembelian Masker" sejak tanggal 6 Februari. Dengan kata lain, setiap orang harus pergi ke apotek dan klinik kesehatan di seluruh negeri untuk membeli masker dengan menggunakan kartu asuransi kesehatan nasional, dan setiap orang dibatasi jumlah pembeliannya per minggu di hari tertentu pemerintah Taiwan membuat aturan sebagai berikut :

•    KTP angka ganjil ujungnya membeli masker pada hari senin-Rabu-jumat dan angka genap membeli masker pada hari Selasa-Kamis-Sabtu, hari minggu boleh ganjil dan genap.
•    Hand sanitizer 70% alcohol based tersedia di public place,
•    Memberlakukan home self quarantine bagi orang-orang yang baru terbang dari negara-negara alert (ada waktu list negara berubah-ubah) dan setiap orang yang self quarantine di lacak keberadaannya dengan menggunakan GPS dan terhubung dengan mobile phone mereka.
•    Sekolah ditunda 2 minggu mengingat banyaknya mahasiswa yang datang dari luar negeri
•    Setiap sekolah atau public places menyediakan thermometer dan setiap orang wajib diukur suhu tubuh nya dan mencuci tangan sebelum masuk
•    Setiap murid juga diberikan termometer mengukur suhu tubuh sendiri, kalau demam wajib lapor ke sekolah atau secara online dengan Qr code yg telah disediakan
•    Kalau melanggar setiap peraturan akan dikenakan sanksi, sesuai dengan pelanggaran yang tidak dipatuhi.
Ketiga :Taiwan menggunakan teknologi informasi untuk memfasilitasi distribusi oleh pemerintah dan pembelian masker oleh masyarakat.

Keberhasilan sistem identitas asli untuk masker di Taiwan bergantung pada sistem asuransi kesehatan nasional yang komprehensif dan data besar di cloud. Jumlah penjualan masker setiap hari di berbagai tempat dapat dilaporkan secara online melalui internet setiap saat. Sehingga pemerintah dapat mengetahui apotik mana saja yang kekurangan stok masker atau kelebihan stok, dan bisa segera memperbaharui pembagian jumlah masker di tiap apotik.

Foto : Courtesy of Taiwan's Presidential Office


Taiwan merupakan salah satu bukti keberhasilan melawan Virus Corona. Terbukti hanya ada total 339 kasus dan 5 orang yang meninggal. Masyarakat di Taiwan saat negara-negara di dunia merasa terancam namun mereka confidence saja dan melakukan aktivitas seperti kondisi normal biasanya, namun hanya saja yang tidak normal seperti aktivitas di Stasiun dan Night market merupakan pasar malam yang terkenal di Taipei Ximen Night Market di daerah Ximending, Taiwan. Lokasinya yang berada di pusat keramaian wisatawan,sekolah dan lain-lain beraktivitas normal seperti biasa.
Akhir dari tulisan ini dapat penulis simpulkan belajar dari Taiwan ini adalah dengan mempelajari karakter dan sifat orang lain untuk dibandingkan dengan diri sendiri tentuk tak ada salahnya untuk dilakukan. Bukan untuk mencari siapa yang terbaik ataupun tidak lebih baik tetapi dengan hal tersebut ketika sisi positif yang diambil perbandingan akan membuat perubahan.

Sebab seringkali, motivasi dan semangat muncul saat melihat orang lain lebih baik dari diri sendiri. Cara belajar karakter dan sifat orang dari negara lain, salah satunya adalah melalui kehidupan sehari-hari untuk menjadi koreksi diri.