Jum'at, 17 Juli 2020 Redaksi - Disclaimer - Pedoman Berita Siber - Tentang Kami - Info Iklan - Indeks Berita
 
OPINI
Oleh: Muhammad Yasir
Media Berperan Jaga Bahasa Indonesia dari Kehancuran
Oleh: Irwan E. Siregar
Bahasa Kyai Slamet
Oleh : Kamsul Hasan Pemerhati Media Massa/Wartawan Senior
Pendataan atau Verifikasi Faktual?
Rusuh Berlatar Rasisme di Amerika Serikat
Oleh: Cifebrima Suyastri (Dosen Fisipol HI UIR)
Magnet Politik Petahana Menuju “Kuansing 2020” atau ,,,,, ?
Cifebrima Suyastri (Dosen Fisipol HI UIR)
Belajar dari Taiwan: "Dinilai Negara yang Sukses Redam Corona”
Dendam Ilmiah Catatan Dahlan Iskan
Oleh: Heni Susanti, S.H.,M.H
Women Trafficking di Indonesia
 
Magnet Politik Petahana Menuju “Kuansing 2020” atau ,,,,, ?
Kamis, 30-04-2020 - 10:32:26 WIB

Berazamcom - Petahana (bahasa Inggris: incumbent), berasal dari kata "tahana", yang berarti kedudukan, kebesaran, atau kemuliaan, dalam politik, adalah istilah bagi pemegang suatu jabatan politik yang sedang menjabat. Istilah ini biasanya digunakan dalam kaitannya dengan pemilihan umum, di mana sering terjadi persaingan antara kandidat petahana dan non petahana. istilah "petahana" terkadang digunakan untuk merujuk kepada kandidat dari partai yang masih memegang jabatan kekuasaan. Kata ini pertama kali diperkenalkan oleh Salomo Simanungkalit pada tanggal 6 Februari 2009 sebagai padanan kata dalam konteks Pemilihan umum Presiden Indonesia 2009. Menurutnya, alasan kata ini baru dibutuhkan pada waktu itu adalah karena sebelumnya presiden (Soeharto) tidak memiliki penantang, oleh sebab itu tidak ada kebutuhan untuk kata "petahana" dalam konteks pemilihan umum. Sejak saat itu, mayoritas surat kabar menggunakan istilah "petahana" sebagai padanan istilah bahasa Inggris "incumbent".

Politik sesungguhnya adalah pengabdian. Bagaimana politisi membangun keakraban dengan konstituen. Bagaimana sang politisi berkontribusi kepada masyarakat. Berbuat baik, bekerja setulus hati untuk masyarakat. Indikator ini sebetulnya terus digelorakan, sebagai bentuk sosialisasi politik. Sebab masyarakat kita kebanyakan mulai lupa, abai terhadap hal-hal objektif yang demikian.

Menghadapi pesta demokrasi Lima tahun sekali 2020 dalam hitungan bulan kedepan, gaya politik petahana/incumbent Bupati Kuantan Singingi saat ini membuat masyarakat bertanya-tanya, pertanyaan yang paling mendasar adalah, siapa pasangannya dan atau siapa wakilnya. Semakin banyak yang bertanya, semakin mereka penasaran, karena sampai saat ini belum ada jawaban pasti, karena memang belum waktunya untuk deklarasi “Paslon”. Beliau selalu fokus menjalankan mandat rakyat sampai akhir masa jabatannya. Gaya kepemimpinan yang merangkul bukan memukul, mengajak bukan mengejek, santun dalam tutur kata, agamis dan sederhana membuat jutaan mata tertuju kepaanya bagaikan magnet baru dalam pendidikan demokrasi di rantau Kuantan Singingi.

Namun gelombang hasrat politik saat ini menjadi prematur tanpa gairah, seiring dengan wabah COVID 19 yang melanda negeri ini dari sabang sampai merauke, termasuk juga di dalamnya Kabupaten Kuantan Singingi dengan Ibu Kota Teluk Kuantan. Konsentrasi menjadi pecah, ekonomi lumpuh seketika, keakraban sosial budaya menjadi batas (Social distancing) dan begitu juga dengan Politik di negeri Jalur tersebut.

Semua mata dan pikiran tertuju dengan jumlah korban keganasan COVID 19 yang merenggut korban satu persatu, dan tidak pandang bulu masyarakat kecil maupun masyarakat menengah dan atas, menjadi korbannya keganasan Virus COVID 19 tersebut.

Disatu sisi bencana ini tentunya tidak menguntungkan untuk petahana/incumbent. Semua Rencana dan segera pelakanaan pembangunannya di tunda. Akan tetapi dilain hal juga menguntungkan untuk petahana/incumbent. Mengapa demikian, masing-masing kita tentunya punya persepsi yang berbeda-beda, hal ini bukanlah esensial yang harus diperdebatkan. Akan tetapi masyarakat mulai menyadari akan keselamatan dirinya dan keluarganya, karib kerabat dan sanak famili lainnya. Mereka bersatu melawan virus COVID 19 tersebut. Sehingga situsi seperti ini boleh dikatakan Branding yang tepat untuk petahana/incumbent, konsisten dalam menjalankan amanah rakyat menjadi nilai historis dimasa sekarang dan mendatang bagi  petahana/incumbent. Melaksanakan setiap moment dengan sebaik-baiknya, melaksanakan tugas pemerintahan dengan “Ikhlas, tuntas dan tegas”.

 

Penulis ; Andrizal, S.Psi, M.Pd.I
Praktisi Pendidikan dan Seorang Dosen Psikologi