Sabtu, 08 08 2020 Redaksi - Disclaimer - Pedoman Berita Siber - Tentang Kami - Info Iklan - Indeks Berita
 
OPINI
Oleh: Indra Gunawan (Mahasiswa STAI- Sumbar)
Partisipasi dan Gerakan Politik Kaum Milineal
Oleh: Muhammad Yasir
Media Berperan Jaga Bahasa Indonesia dari Kehancuran
Oleh: Irwan E. Siregar
Bahasa Kyai Slamet
Oleh : Kamsul Hasan Pemerhati Media Massa/Wartawan Senior
Pendataan atau Verifikasi Faktual?
Rusuh Berlatar Rasisme di Amerika Serikat
Oleh: Cifebrima Suyastri (Dosen Fisipol HI UIR)
Magnet Politik Petahana Menuju “Kuansing 2020” atau ,,,,, ?
Cifebrima Suyastri (Dosen Fisipol HI UIR)
Belajar dari Taiwan: "Dinilai Negara yang Sukses Redam Corona”
Dendam Ilmiah Catatan Dahlan Iskan
 
Oleh: Irwan E. Siregar
Bahasa Kyai Slamet
Kamis, 18-06-2020 - 16:10:09 WIB

Di majalah TEMPO dulu ada polisi bahasa bernama Slamet Djabarudi. Dijuluki polisi bahasa karena pekerjaannya memang memelototi alias memeriksa dengan teliti setiap naskah yang akan dicetak.

Kyai Slamet, begitu sering dipanggil kawan-kawan, sebagai candaan. Diambil dari nama seekor kerbau yang dikultuskan masyarakat di sebuah keraton. Nyaris sama dengan kyai kerbau berkulit bule yang kerjanya cuma makan melulu, Kyai Slamet juga hampir setiap akhir pekan menjelang hari tenggat (deadline) melahap habis semua naskah yang disuguhi dari tangan redaksi.

Dia tak hanya sekadar memeriksa tatabahasa, ejaan, kosakata, tanda baca, dan sebagainya. Tapi juga suka memasukkan serapan dari bahasa daerah ataupun dari bahasa Indonesia yang sudah jarang dipakai orang. Misalnya, kata menepuk dada digantinya lebih pas dengan mendabik. Serapan ini diambil dari Bahasa Minang.

Di majalah berita mingguan ini juga tak jarang ditemukan kata mengancik (beralih), rehal (tempat membaca Alquran), dan berbagai serapan lainnya. Cuma, Kyai Slamet seperti selalu menghindari pemakaian kata mantan. Entah apa alasan keengganan itu tidak terungkap sampai ia meninggal dunia sebelum TEMPO dibredel pemerintah pada 1994.

Tapi, yang jelas sumbangsih yang diberikan Slamet Djabarudi untuk memajukan pemakaian Bahasa Indonesia yang baik dan benar, sudah cukup banyak. Setidaknya untuk majalah TEMPO dan beberapa media lain yang sekelompok. Meskipun produk majalah ini adalah hasil dari kerjasama tim, namun Kyai Slamet termasuk ikut berjasa untuk menjadikan majalah TEMPO bisa menjual diri dengan motto: Enak Dibaca dan Perlu.

Media lain tentu saja juga melakukan hal yang sama, kendati mungkin dengan cara berbeda. Namun majalah TEMPO lebih diuntungkan karena terbit mingguan, sehingga masa tenggat (deadline)nya lebih panjang. Berbeda dengan di media harian dan online yang tenggatnya sangat singkat. Bahkan di era kekinian, berita detik ini diberitakan detik ini juga.

Mencari figur seperti Kyai Slamet sebenarnya tak terlalu susah. Slamet Djabaduri sebelumnya juga adalah wartawan biasa. Cuma prestasinya agak melonjak saat menjadi salah satu wartawan media lokal yang mengungkap kasus perkosaan yang dilakukan seorang anak pahlawan revolusi terhadap penjual jamu gendong di Yogyakarta. Ia sempat ditangkap polisi, sampai Kapolri yang dulu dijabat Jenderal Hoegeng ikut turun tangan melepaskannya. Peristiwa menghebohkan ini dikenal dengan Kasus Sum Kuning.

Sepeninggal Kyai Slamet, urusan pemeriksa bahasa di majalah TEMPO kemudian diteruskan Aston Pasaribu, yang sebelumnya sudah lama jadi staf Kyai Slamet. Menariknya, Aston yang bukan wartawan dan sudah sekian lama bermukim di Jakarta, hingga kini pengucapan Bahasa Indonesianya masih tetap dengan logat Batak yang kental. Kalau kata orang Medan bahasa Indonesianya masih berpasir-pasir. Maka wajar jika ada kawan yang menyelutuk kalau Aston tembak langsung dari Tarutung ke Jakarta. Tidak lewat Medan lagi.

Melihat tidak terlalu rumitnya proses pembentukan seorang pemeriksa bahasa di Majalah TEMPO, rasanya ini juga bisa dilakukan di media lain. Baik itu media cetak harian maupun portal berita. Bahkan seandainya kehadiran pemeriksa bahasa dianggap akan memperlambat kerja wartawan, sebaiknya seluruh wartawan dibekali dengan pengetahuan penulisan yang baik dan benar. Sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia.

Sebab, seperti yang sering terlihat saat ini, karena begitu semangatnya memberitakan suatu peristiwa, para wartawan/redaktur terkadang sampai tak memperdulikan lagi kaidah berbahasa yang baik dan benar. Media online dan mungkin juga media cetak, misalnya, sering membuat kalimat seperti ini: Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan,…Padahal seharusnya lebih tepat tanda baca koma berada di belakang nama.Seperti, Presiden RI, Soekarno, memprokramirkan kemerdekaan… Ini untuk menghindari kata bermakna ganda: nama Menteri Keuangan bisa menjadi Sri Mulyani Mengatakan.

Guna memperkaya ragam Bahasa Indonesia, para awak media pun dalam menulis kalimat langsung sering mengunci dengan kata ujarnya, tukasnya, kilahnya, dan banyak lagi yang lainnya. Langkah yang dilakukan tersebut memang pantas diacungi jempol. Namun, sayang sekali, masih ada juga yang meletakkan kata tersebut tidak pada tempatnya.

Misalnya, berita tentang seorang artis yang tampak sudah agak gemukan. “Saya memang sudah jarang olahraga,” kilahnya. Padahal kata kilah itu lebih tepat untuk kalimat berdalih. “Waduh, maaf, saya tidak bisa datang karena ketiduran,” kilahnya.

Kata ujar yang lebih bermakna kepada nasehat juga seringkali digunakan dalam kalimat bermakna lain. Begitu juga dengan kata tukas, imbau, pinta, bujuk, dan sebagainya. Bahkan, masih ada pula yang memakai kata tandas, padahal kemudian dibelakangnya masih ada lagi kalimat-kalimat yang lain. Untunglah kata tandas tak diucapkan di negeri jiran, Malaysia. Karena berarti kamar kecil atau toilet.

Sebagai insan pers yang dalam bekerja menggunakan Bahasa Indonesia, tentu saja sangat diharapkan agar para wartawan lebih memperindah perkembangan Bahasa Indonesia dalam berita yang disajikannya. Karena itu, setiap media rasanya masih membutuhkan figur-figur semacam Kyai Slamet. Yakni, seorang insan pers yang kemudian terus menekuni proses pemakaian Bahasa Indonesia yang baik dan benar sampai akhir hayatnya. (*)

• Penullis adalah mantan wartawan Majalah TEMPO.