Dikukuhkan Sebagai Guru Besar Unri, Ini Pemikiran Prof Eni Yulinda
Kamis 29 Januari 2026, 13:44 WIB
šŸ‘36111

 

Pekanbaru, berazamcom - Medio bulan ini, Universitas Riau (Unri) melahirkan satu Guru Besar baru: Prof Ir Eni Yulinda MP PhD, pakar Ilmu Sosial Ekonomi Perikanan pada Fakultas Perikanan dan Kelautan Unri. Dia dikukuhkan bersama enam profesor baru bidang lainnya di Gedung Student Center Unri, Senin (19/1) oleh Ketua Senat, dan Rektor Unri Prof Dr Sri Indarti SE MSi.  

Pencapaian Prof Eni menarik disimak, lantaran dalam satu dasawarsa terakhir, konsistensinya dalam meneliti hubungan tauke-nelayan dalam sistem rantai pasok (supply chain) ekspor ikan laut Riau. Riau, sebagaimana kita tahu, merupakan salah satu sentra produksi ikan laut berorientasi ekspor terbesar di Indonesia Barat. Sekitar 36 ribu jiwa nelayan, menggantungkan hidupnya di sektor ini, dengan segala kesederhanaannya: berpendidikan rendah, menggunakan alat tangkap ikan tradisional, dan miskin modal. Merekalah yang menjadi titik sorot Prof Eni – perempuan kelahiran Kampar (1967) – dalam riset-risetnya, bukan yang muluk-muluk.    

Dalam pandangannya, produksi ikan laut Riau sekitar 114 ribu ton per tahun (senilai Rp3,1 triliun), menjadi penopang utama perekonomian pesisir. Lebih 92% produksi itu berasal dari empat kabupaten: Rokan Hilir, Bengkalis, Kepulauan Meranti, dan Indragiri Hilir. Sekitar 30% produksi ikan itu diekspor, terutama ke Malaysia dan Singapura. “Jadi, bagi Riau, ekspor ikan bukan sekadar angka perdagangan, tetapi sumber penghidupan ribuan nelayan sekaligus penyumbang signifikan pendapatan daerah,” tutur asesor kompetensi penyuluhan perikanan fasilitator itu.

Namun, kata Prof Eni, keberlanjutan ekspor ikan, tidak semata ditentukan oleh melimpahnya sumber daya alam. Tapi pada stabilitas pasokan, yang sangat bergantung pada nelayan sebagai produsen utama. Di sinilah tantangan muncul. Mayoritas nelayan Riau masih berskala tradisional, menggunakan armada sederhana, bermodal kecil, dan memiliki tingkat pendidikan yang relatif rendah. “Kondisi ini membuat mereka sangat bergantung pada tauke —pedagang pengumpul, agen, atau eksportir ikan— yang berperan sebagai penyedia modal sekaligus pembeli hasil tangkapan,” beber doctor of philosophy (PhD) manajemen bisnis jebolan Universiti Selangor Malaysia ini.

Ibu dua anak ini menjelaskan, dalam konteks masyarakat pesisir Riau, tauke bukan sekadar aktor ekonomi. Ia merupakan institusi sosial-ekonomi. Tauke —mayoritas WNI turunan Tiongkok—membeli seluruh hasil tangkapan nelayan, menyediakan kebutuhan hidup secara kredit, meminjamkan modal, bahkan menjadi penyangga ekonomi rumah tangga nelayan saat musim paceklik. Hubungan ini membentuk sebuah rantai pasok (supply chain) ekspor ikan yang khas, di mana aliran ikan, uang, dan informasi saling terkait erat. Di sinilah trust (kepercayaan) memainkan peran sentral.
 
Bertumpu pada Trust

Riset-riset Prof Eni menunjukkan bahwa aktor dalam sistem supply chain ekspor ikan di Riau relatif sama, yaitu: nelayan, pedagang pengumpul, agen, eksportir, dan importir luar negeri. Namun pola hubungan mereka sangat beragam. Di Rokan Hilir, misalnya, terdapat beberapa pola distribusi ikan: nelayan menjual langsung ke eksportir, atau melalui pedagang pengumpul sebelum diteruskan ke eksportir di Dumai atau bahkan ke Sumatra Utara. Di Indragiri Hilir, polanya lebih sederhana: nelayan menjual langsung ke eksportir yang kemudian mengirim ikan ke Singapura melalui Batam.

Sementara di Pulau Rupat, fenomenanya lebih unik: karyawan eksportir menjemput produksi ikan nelayan suku Akit, langsung ke tengah laut. Nelayan Akit adalah pemasok 58% produksi ikan laut berorientasi ekspor Bengkalis. Kelancaran sistem supply chain ini, kata Prof Eni, karena terdapat trusting relationship (hubungan kepercayaan) antara tauke-nelayan. Nelayan percaya tauke akan membeli semua ikan mereka dan membayar tepat waktu. 

Sebaliknya, tauke percaya bahwa nelayan tidak akan menjual ikan kepada tauke lain meskipun harga pasar berfluktuasi. “Bahkan, kepercayaan antar-tauke lintas daerah dan lintas provinsi, sering kali dibangun atas dasar hubungan kekerabatan dan etnis, yang telah terjalin turun-temurun sejak abad ke-19,” kata Koordinator IMFISERN (Indonesian Marine and Fisheries Socio Economics Research Network) Wilayah Sumatera, sejak 2018 itu.

Riset-riset Prof Eni menunjukkan, trust bukan sekadar nilai sosial, tetapi faktor strategis yang menentukan kinerja supply chain ekspor ikan. Di Rokan Hilir, trust terbukti berpengaruh terhadap kinerja supply chain, sekaligus berperan sebagai pemediasi pengaruh produktivitas dan integritas nelayan. Nilai pengaruhnya, secara bersama-sama, sekitar 55%. Di Rupat, trust berperan memediasi pengaruh modernisasi perikanan, pendidikan, dan dukungan pemerintah terhadap kinerja supply chain hingga 81,5%. Dia menjelaskan, modernisasi alat tangkap tanpa fondasi hubungan trust tauke-nelayan yang kuat, tak akan berhasil optimal.

Sebaliknya, modernisasi perikanan—penggunaan perahu motor, alat navigasi, dan komunikasi digital—justru dapat memperkuat trust. “Nelayan yang lebih produktif dan akurat dalam menangkap ikan meningkatkan kepercayaan tauke. Sebaliknya, dukungan modal dan teknologi dari tauke meningkatkan kepercayaan nelayan bahwa usaha mereka akan berkelanjutan,” ujar Prof Eni, yang sudah menulis 15 artikel di jurnal internasional bereputasi dan 10 buku, serta memegang delapan Hak Kekayaan Intelektual ini.

Menurut Prof Eni, pengalaman Riau memberikan pelajaran penting: penguatan ekspor perikanan tidak cukup mengandalkan teknologi, modal, dan infrastruktur semata. Supply chain perikanan adalah sistem sosial-ekonomi yang hidup, di mana trust menjadi perekat utama. Alhasil, kebijakan pembangunan perikanan ke depan perlu secara sadar memasukkan dimensi trust dalam desain program, regulasi, dan kelembagaan. “Transparansi harga, kepastian pembayaran, komunikasi yang terbuka, serta penguatan kelembagaan lokal berbasis kepercayaan adalah kunci bagi keberlanjutan ekspor ikan laut,” tutur penulis 10 buku dan memegang delapan Hak Kekayaan Intelektual itu.

Pada akhirnya, trust bukanlah konsep abstrak. Di pesisir Riau, trust adalah alasan mengapa tetap nelayan melaut, tauke tetap berinvestasi, dan ekspor ikan terus mengalir lintas negara.  "Dalam supply chain perikanan, trust adalah modal yang tak kalah penting dari kapal dan jaring," pungkas Prof Ir Eni Yulinda MP PhD, Srikandi Supply Chain Perikanan dari Riau ini.(*)

 

Editor: Yanto Budiman

 




Untuk saran dan pemberian informasi kepada berazam.com, silakan kontak ke email: [email protected]
Copyright Ā© 2021 berazam.com - All Rights Reserved
Scroll to top