Minggu, 19 Mei 2024

Breaking News

  • Ketua DPC PJS Kota Palembang Soroti Pembangunan Terminal Batubara Kramasan   ●   
  • Pernyataan Wan Abu Bakar Berpotensi Primordialisme, Tokoh Riau Edy Natar Nasution Angkat Bicara   ●   
  • Dinkes Siak dan Apkesmi Gelar Webinar, Perkenalkan Program ILP   ●   
  • Mahasiswa Hukum UIR Raih Best Speaker di Kontes Duta Wisata Riau 2024   ●   
  • UIR Terima Bantuan Dana Pendidikan Sebesar Rp 70 Juta dari Bank Syariah Indonesia   ●   
Catatan Tiga Tahun Syamsuar - Edi Natar
Sabtu 19 Februari 2022, 09:39 WIB

20 Februari 2019. Syamsuar dan Edi Natar Nasution dilantik oleh Presiden Jokowi menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Riau. Hari ini, Sabtu (20/2 2020), pasangan Syam dan Edi genap berusia tiga tahun. Ketika Kalam ini ditulis, Pak Syam (panggilan untuk Gubernur Syamsuar__pen) sedang mengisolasi diri karena terpapar Covid-19. Kita doakan semoga gubernur pilihan rakyat itu lekas sembuh dan dapat kembali beraktivitas melaksanakan tugas-tugas pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan.


Tiga tahun. Bukan usia panjang untuk satu periode jabatan politik. Tapi juga bukan umur pendek. Ibarat berjalan dua pertiga jalan telah dilewati. Sepertiganya tinggal menunggu waktu tiba. Masih tersedia dua dari lima tahun lagi untuk Syamsuar - Edi Natar merealisasikan visi,  misi dan rencana strategisnya di Tanah Melayu.

Secara umum. Usai pelantikan kepala daerah dan wakil kepala daerah, rakyat berharap banyak terjadi perubahan. Bukan semata perubahan di bidang pembangunan, akan tetapi juga menyangkut kualitas hidup, penegakan hukum, soal ketidak-adilan sampai kepada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Semua harapan akan perubahan itu bergelayut dalam visi, misi dan rencana aksi Syam – Edi.

Figur Syamsuar - Edi Natar memang beda dengan sosok gubernur lain di Indonesia. Sebutlah, misalnya Anis Baswedan di DKI Jakarta, Ridwan Kamil di Jawa Barat, Ganjar Pranowo di Jawa Tengah, Khofifah Indar Parawansa di Jawa Timur, atau Edy Rahmayadi di Sumatera Utara. Mereka merupakan sosok gubernur yang tak pernah kering dari pemberitaan media. Baik karena prestasi maupun lantaran tindakannya yang mengundang kontroversi. Syamsuar adalah figur yang low profil.

Ke-rendah-hatian Syamsuar ini pula yang membuat kita tak merasakan ada gebrakan yang membanggakan dari program kerja Syam – Edi dalam tiga tahun kepemimpinannya. Termasuk menjadkan “Riau Hijau” yang sewaktu kampanye mereka usung sebagai slogan simpatik dalam meraup suara pilkada. Setidaknya gebrakan itu tidak tercatat di tahun awal sebelum negeri ini dilanda Pandemi Covid-19.

Bercermin kepada Anis, usai dilantik menjadi Gubernur DKI Jakarta, langsung menghentikan proyek reklamasi di pesisir utara Jakarta. Serta mencabut izin 13 pulau reklamasi. Menutup tempat-tempat hiburan, dan terakhir membangun Jakarta International Stadium berkelas dunia. Kang Emil juga tak mau kalah. Ia menyulap Kalimalang seperti sungai di Seoul, atau mengubah gaya kepemimpinannya dalam menyerap aspirasi warga sehingga sosoknya dikenal luas masyarakat. Terutama di kalangan milenial.

Syamsuar tak serta merta membuka buhul benang masalah di Riau pada tahun pertama. Seperti kesenjangan kualitas sumberdaya manusia antar kabupaten/kota dimana IPMnya rata-rata berada di bawah IPM Provinsi Riau, rendahnya kualitas infrastruktur dasar bagi masyarakat, baik jalan, jembatan maupun ketersediaan air minum. Masalah tapal batas antardaerah yang sejak dahulu tak kunjung diselesaikan secara tuntas dan serius. Juga berbagai problem perekonomian mulai dari pertumbuhan ekonomi yang rendah hingga masih tingginya masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan.  Termasuk ketersediaan lapangan kerja bagi penduduk.

Memasuki tahun kedua dan ketiga. Menjadi tahun tersulit bagi Syamsuar – Edi Natar. Sebab focus kinerja berubah untuk menangani Pandemi Covid-19. Gubernur dan Wakil Gubernur harus berfikir ekstra bagaimana menyelamatkan rakyat. Seluruh kekuatan diarahkan untuk mencegah agar wabah corona tidak meluas. Ekonomi yang di tahun pertama agak membaik tiba-tiba hancur dan babak belur oleh serangan pandemi. Seluruh sektor kehidupan daerah dan masyarakat lumpuh total. Syamsuar praktis tak bisa berbuat banyak merealisasikan janji-janji kampanyenya karena APBD Provinsi Riau yang berjumlah Rp 8 triliun lebih di samping dibelanjakan untuk kebutuhan rutin juga direfocusing dan direalokasikan untuk keperluan pencegahan virus corona.

Sekarang. Waktu masih tersisa dua tahun. Bila rentang itu juga tak dapat dimaksimalkan, boleh  jadi 2024 menjadi tahun terburuk bagi Syamsuar. Berbagai isu kegagalan akan digoreng lawan-lawan politiknya, untuk menggembosi rendahnya tingkat kepuasaan publik terhadap kinerja Syamsuar. Sekaligus menjadi titik hantam menurunkan elektabilitas politik. Karenanya, Syamsuar harus berlari kalua ia masih ingin masuk gelanggang pertarungan. Figur-figur muda seperti Syamsurizal, Ahmad, Alfedri, Edi Tanjung sudah mau berdiri di garis star untuk berlari di 2024. Karenanya, seperti kata Napoleon Bonaparte, berilah segera harapan kepada rakyat. Bahwa Anda mampu mewujudkan janji-janji kampanye untuk perubahan ke arah yang lebih baik.*

[]Penulis: Dosen Fakultas Hukum Universitas Islam Riau




Untuk saran dan pemberian informasi kepada berazam.com, silakan kontak ke email: redaksi.berazam@gmail.com


Komentar Anda
Indeks
Kamis 02 November 2023, 17:23 WIB
Impeachment Jokowi
Sabtu 21 Oktober 2023, 00:34 WIB
''Quo Vadis Mahkamah Konstitusi''
Jumat 13 Oktober 2023, 00:45 WIB
BRK Syariah Mencari Dirut, Siapa ‘Jagoan’ Syamsuar?
Sabtu 23 September 2023, 10:31 WIB
Pilpres 2024: Dua atau Tiga Pasang?
Selasa 05 September 2023, 23:50 WIB
Nasib Demokrat
Sabtu 02 April 2022, 19:42 WIB
Marhaban ya Ramadhan
Kamis 10 Maret 2022, 16:34 WIB
Mutiara dari Pesisir
Sabtu 26 Februari 2022, 16:37 WIB
Tersandung "Gonggongan Anjing"
Sabtu 19 Februari 2022, 09:39 WIB
Catatan Tiga Tahun Syamsuar - Edi Natar
Kamis 10 Februari 2022, 06:57 WIB
Menata Kembali Industri Pers


About Us

Berazamcom, merupakan media cyber berkantor pusat di Kota Pekanbaru Provinsi Riau, Indonesia. Didirikan oleh kaum muda intelek yang memiliki gagasan, pemikiran dan integritas untuk demokrasi, dan pembangunan kualitas sumberdaya manusia. Kata berazam dikonotasikan dengan berniat, berkehendak, berkomitmen dan istiqomah dalam bersikap, berperilaku dan berperbuatan. Satu kata antara hati dengan mulut. Antara mulut dengan perilaku. Selengkapnya



Alamat Perusahaan

Alamat Redaksi

Perkantoran Grand Sudirman
Blok B-10 Pekanbaru Riau, Indonesia
  redaksi.berazam@gmail.com
  0761-3230
  www.berazam.com
Copyright © 2021 berazam.com - All Rights Reserved
Scroll to top