Oleh Irvan Nasir
Ketika jagat politik Indonesia kembali diramaikan oleh gugatan mahasiswa terhadap Presidential Treshold 20% di Mahkamah Konstitusi (MK), satu hal menjadi jelas: menurut beberapa pihak harus ditelisik kenapa gugatan ke 37 ini diamini oleh MK, tampaknya ada sosok yang memiliki semangat pantang menyerah. Tidak tanggung-tanggung, ini adalah gugatan ke-37 yang menyeretnya ke MK. Sebuah angka yang lebih mirip rekor nasional dibandingkan agenda politik. Namun, apakah ini semata kebetulan atau ada sesuatu yang lebih besar di balik layar?
Mari kita bahas apa yang konon menjadi isu besar: yaitu dugaan "cawe-cawe" Jokowi sang mantan Presiden demi menyiapkan panggung politik untuk putranya, Gibran Rakabuming Raka, di 2029. Ada yang mengatakan, ini adalah episode terbaru dalam drama "politik dinasti ala Indonesia."
36 Gugatan Sebelumnya: Kandas, Tapi Apa Peduli?
Dalam dunia politik, kalah itu biasa. Tapi 36 kali kalah? Itu luar biasa! Barangkali kita harus mengapresiasi konsistensi Mahkamah Konstitusi yang seolah mempraktikkan prinsip “kandas itu pasti.” Namun, muncul gugatan baru dari empat mahasiswa yang mempertanyakan dugaan keterlibatan Jokowi dalam pemilu yang seharusnya adil dan bebas.
Apa bedanya gugatan kali ini? Tidak ada yang tahu pasti, tetapi kalau kita membaca situasi, ada dugaan bahwa ini berkaitan dengan persiapan 2029. Barangkali Jokowi sedang merancang skenario jangka panjang yang akan memastikan nama keluarganya tetap berada di halaman depan sejarah politik Indonesia.
Partai-Partai Besar: Impian yang Tertunda
Menurut para pengamat, Jokowi sempat mencoba “merebut hati” beberapa partai besar demi menopang ambisi politiknya. Tapi sayang, politik tidak selalu soal logika, melainkan transaksi. Tidak ada partai besar yang benar-benar mau memberikan cek kosong untuk kepentingan keluarga Jokowi. Lalu, apa pilihan yang tersisa?
Pun partai yang semula merupakan 'rumah besar' Jokowi dan keluarga besarnya pula telah memecat keluarga cemara ini. Impian 2029 seperti menjauh, karena yang tersisa cuma sekuntum Mawar Merah
Landskap perpolitikan di Indonesia telah berubah. Bak kata pepatah Melayu "Sekali air naik sekali pula titian beralih"
Tentu saja, jalan memutar masih mungkin. Menggunakan pengaruhnya untuk mendesain panggung politik yang lebih “ramah” bagi Gibran. Dengan kacamata ini, dugaan cawe-cawe Jokowi lebih masuk akal.
Apa yang Dipertaruhkan?
Dengan segala kontroversi ini, satu pertanyaan besar muncul: apakah masyarakat benar-benar akan percaya bahwa “cawe-cawe” ini murni demi kepentingan bangsa? Ataukah ini hanyalah strategi bertahan dari seorang politisi yang tidak ingin kehilangan relevansi?
Sebagai rakyat, kita hanya bisa menonton drama ini dari pinggir lapangan sambil bertanya-tanya apakah gugatan ke-37 ini akan berbeda dari 36 sebelumnya. Ataukah kita hanya akan melihat lagi halaman kosong di berita MK?
Penghujung Jalan
Kalau memang Gibran benar-benar dipersiapkan menjadi presiden 2029 melalui jalan lancung seperti itu, mungkin kita bisa memberi Jokowi gelar tambahan: “Bapak Cawe-Cawe Nasional.” Sebab tidak mudah mengatur strategi besar di tengah tekanan publik dan oposisi. Tapi seperti kata pepatah, "Jika tidak bisa mengalahkan mereka, buat mereka tidak relevan."
Atau mungkin, seperti rakyat biasa, Jokowi hanya ingin memastikan anaknya punya “pekerjaan tetap” di masa depan. Maklum, menjadi pemimpin bangsa itu, kata orang-orang, lebih stabil daripada membuka bisnis martabak.
Semuanya masih serba mungkin. Tidak ada yang tau kecuali Jokowi!
Penulis adalah mantan profesional dan pemerhati sosial politik Riau


