Minggu, 19 Mei 2024

Breaking News

  • PKKEI: Majelis Hakim Diharap Memahami dengan Benar Kasus LNG Terdakwa Karen Agustiawan Secara Utuh   ●   
  • Ini Daftar Sahabat Pengadilan di Sidang Korupsi Mantan Dirut Karen Agustiawan   ●   
  • 3 Tahun Kepemimpinan Rektor: Sportivitas Persaudaraan Menuju UIN Suska Terbilang dan Gemilang   ●   
  • Ketua DPC PJS Kota Palembang Soroti Pembangunan Terminal Batubara Kramasan   ●   
  • Pernyataan Wan Abu Bakar Berpotensi Primordialisme, Tokoh Riau Edy Natar Nasution Angkat Bicara   ●   
Kominfo Tutup 61.000 Akun WhatsApp
Selasa 28 Mei 2019, 19:25 WIB
Menkominfo Rudiantara
Jakarta, berazamcom - Pembatasan media sosial yang diterapkan pemerintah Indonesia telah berakhir pada Sabtu (25/5). Sebelumnya sejak Rabu (22/5), hampir seluruh pengguna WhatApp, Instagram, Facebook hingga Line di Indonesia mengalami gangguan, terutama untuk download dan upload foto serta video. Pemerintah Indonesia beralasan pembatasan ini dilakukan bertujuan untuk meminimalisir penyebaran hoaks dan menghindari konflik yang ditimbulkan akibat provokasi dari hoaks tersebut. Hasilnya, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) berhasil menutup akses 2.184 akun dan situs web yang menyebarkan hoaks. Dalam data yang diterima kumparan, Kominfo telah menutup 551 akun Facebook, 848 akun Twitter, 640 akun Instagram, 143 akun YouTube, serta masing-masing satu untuk URL situs web dan LinkedIn. Total ada 2.184 akun dan website yang telah diblokir. Selain itu, Kominfo juga bekerja sama dengan penyedia platform digital, dalam hal ini aplikasi pesan instan WhatsApp untuk menekan peredaran hoaks. "Saya telah berkomunikasi dengan pimpinan WhatsApp, yang hanya dalam seminggu sebelum kerusuhan 22 Mei lalu telah menutup sekitar 61.000 akun aplikasi WhatsApp yang melanggar aturan," kata Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara, dalam siaran pers Senin (27/5) kemarin. Rudiantara juga menjelaskan ada tiga langkah yang dilakukan oleh Kominfo dalam membatasi media sosial. Langkah pertama adalah menutup akses tautan konten atau akun yang terindikasi menyebarkan hoaks. Kedua, bekerja sama dengan penyedia platform digital untuk menutup akun. Dan ketiga, pembatasan akses terhadap sebagian fitur platform digital atau berbagi file. "Pembatasan akses merupakan salah satu dari alternatif-alternatif terakhir yang ditempuh seiring dengan tingkat kegentingan. Pemerintah negara-negara lain di dunia telah membuktikan efektivitasnya untuk mencegah meluasnya kerusuhan," jelasnya. Lebih lanjut, pria yang akrab disapa Chief RA ini mengungkap beberapa negara yang melakukan hal serupa. Misalnya, Sri Lanka yang menutup akses ke Facebook dan WhatsApp untuk meredam dampak serangan bom gereja dan gerakan anti-Muslim. Rudiantara mengajak semua pengguna media sosial untuk memerangi hoaks, ujaran kebencian, dan provokasi. "Saya mengajak semua masyarakat pengguna media sosial, instant messaging maupun video file sharing untuk senantiasa menjaga dunia maya Indonesia. Digunakan untuk hal-hal yang positif," ujar Rudiantara. Jika masyarakat masih menemukan konten-konten hoaks atau negatif, dapat melaporkan melalui aduankonten.id atau akun Twitter @aduankonten.*bazm3



Untuk saran dan pemberian informasi kepada berazam.com, silakan kontak ke email: redaksi.berazam@gmail.com


Komentar Anda
Berita Terkait
 
 


About Us

Berazamcom, merupakan media cyber berkantor pusat di Kota Pekanbaru Provinsi Riau, Indonesia. Didirikan oleh kaum muda intelek yang memiliki gagasan, pemikiran dan integritas untuk demokrasi, dan pembangunan kualitas sumberdaya manusia. Kata berazam dikonotasikan dengan berniat, berkehendak, berkomitmen dan istiqomah dalam bersikap, berperilaku dan berperbuatan. Satu kata antara hati dengan mulut. Antara mulut dengan perilaku. Selengkapnya



Alamat Perusahaan

Alamat Redaksi

Perkantoran Grand Sudirman
Blok B-10 Pekanbaru Riau, Indonesia
  redaksi.berazam@gmail.com
  0761-3230
  www.berazam.com
Copyright © 2021 berazam.com - All Rights Reserved
Scroll to top