Senin, 28 September 2020 Redaksi - Disclaimer - Pedoman Berita Siber - Tentang Kami - Info Iklan - Indeks Berita
 
 
Kotau, Cara Kunni Masrohanti Ikut Merawat Alam dan Tradisi

Kamis, 10-09-2020 - 10:14:42 WIB

 
Kotau, buku puisi tunggal keempat Kunni Masrohanti

TERKAIT:
 
     

    Pekanbaru, berazamcom - Memang sejak awal Kunni Masrohanti, penyair perempuan asal Riau ini suka bermain di alam bebas, suka menulis dan menggali hal-hal berbau tradisi.

    Tak heran jika semua itu terlihat jelas dalam karya-karya puisinya. Kali ini Kotau, buku puisi tunggalnya keempat yang seluruh isinya lahir dari akar tradisi dan bentang alam yang lestari.

    Ada 79 judul puisi yang semuanya tentang adat, tardisi, istilah-istilah lokal dan juga konservasi, khususnya di kawasan Rantau Kampar Kiri, Kabupaten Kampar. Maka, bahasa dalam buku ini juga didominasi oleh bahasa, ungkapan dan istilah-istilah Kampar Kiri. Ada tentang benda, alam dan budaya dan lainnya.

    ''Menurut saya, salah satu tugas sastrawan adalah turut menjaga dan melestarikan bahasa, termasuk bahasa ibu. Maka dalam buku Kotau ini banyak istilah atau bahasa Kampar Kiri yang saya gunakan. Awalnya sulit, karena jauh dengan bahasa saya di Siak sana, tapi karena sering bermain ke sini, sering melihat dan menyimak adat dan tradisi masyarakatnya yang masih terjaga, lama-lama bisa. Semua keindahan alam dan tradisi yang sebagiannya mulai tergerus di kawasan ini harus dirawat bersama. Saya juga harus ikut menjaganya. Makanya saya pelajari terus hingga menjadi bait-bait puisi. Sama dengan buku saya sebelumnya, Calung Penyukat yang lahir dari rahim bentang alam dan tradisi Melayu tempat saya lahir,'' kata Kunni yang juga Ketua Penyair Perempuan Indonesia ini.

    Kampar Kiri merupakan wilayah Kerajaan besar, yakni Kerajaan Gunung Sahilan. Kerajaan ini muncul pada abad 17 dan berakhir tahun 1946 atau setelah setahun Indonesia merdeka. Sampai saat ini kerajaan tersebut masih berdiri dan berdaulat dengan raja bergelar Raja Adat. Raja dan gelar ini sengaja ditabalkan kembali beberapa tahun lalu untuk tetap menjaga adat di wilayah tersebut agar tetap wujud.

    Secara administrasi, wilayah ini memang masuk Riau. Tapi adat, tradisi dan bahasanya lebih mengatah ke Sumatera Barat. Sebab, wilayah yang berada di bawah kaki Bukit Barisan ini memang berbatas langsung dengan Sumatera Barat. Bahkan Kerajaan Gunung Sahilan dipercaya lahir dan berkembang dari Ranah Minang.

    Selain itu Kampar kiri juga memiliki bentang alam yang indah. Ada kawasan berstatus Swaka Marga Satwa Rimbang Baling yang menjadi kantong harimau sumatera terbesar di Riau dalam wilayah ini. Di dalamnya, banyak desa-desa adat yang masih sangat menjaga dan menjalankan adat tradisi di sana. Sebab dilindung rimba raya dan dibelah banyak sungai, di antaranya Sungai Subayang dan Bio, maka adat tradisi di sini tidak lepas dari sungai dan rimba.

    ''Kotau ini belum seberapa, apa yang saya lakukan ini belum seberapa, belum apa-apa. Sebab literasi memang bukan untuk sendiri dan konservasi tidak bisa sendiri,'' kata Kunni lagi.*bazm3

     



     
    MTQ (di) Kampar
    Oleh: Syafriadi

    Sudah lama saya tak menyaksikan open dan closing cermony Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ). Sabtu malam (30/11 2019), saya sempatkan datang ke Kota Bangkinang. Melihat malam penutupan MTQ Provinsi Riau ke-38.
     
     
    Luar Biasa! Pasar Modern Sorek Harus Bisa Dioperasikan, Sewa untuk Pedagang Gratis Dua Tahun
    DPC Partai Demokrat Pelalawan Serahkan Mandat PAC Kerumutan, Wardoyo Siap Menangkan HT
    Paripurna Dewan 'Hujan' Interupsi, Ida Yulita Sebut MoU KUA-PPAS Perubahan APBD Langgar UU
    Tingkatkan Usaha Ekonomi Masyarakat, Mahasiswa Kimia UMRI Taja Pelatihan Online
    Ternyata Nomor Urut 3 Sesuai Prediksi dan Harapan HT