Kamis, 19 Mei 2022

Breaking News

  • Kejari Kuansing Musnahkan Barang Bukti Kulit Harimau Hingga Sabu Sebanyak 296,80 Kg   ●   
  • Pemprov Riau Anggarkan Bantuan 14 Milyar Untuk 12.266 Pelaku Usaha Mikro   ●   
  • Selamatkan Aset, Sekda Kuansing Ambil Alih Pengelolaan Kebun Sawit Pemda   ●   
  • Rumah Zakat Terima Global Good Govermance Award 2022   ●   
  • Sendratasik FKIP UIR Taja Workshop Dendang Syair Bersama Maestro Syair Nusantara Asal Malaysia   ●   
Presiden Afsel Minta RI Cabut Larangan Masuk terkait Varian Omicron
Senin 29 November 2021, 10:11 WIB
Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa

Cape Town, berazamcom - Presiden Afrika Selatan mengecam larangan perjalanan yang diterapkan terhadap negaranya dan negara-negara tetangganya terkait varian baru virus Corona Omicron.

Cyril Ramaphosa mengatakan "sangat kecewa" dengan tindakan tersebut, yang dia sebut tidak bisa dibenarkan. Karena itu, dia meminta supaya larangan segera dicabut.

Indonesia, Inggris, AS, dan Uni Eropa termasuk negara-negara yang telah melarang perjalanan dari negara-negara Afrika bagian selatan karena varian baru ini.

Omicron telah dikategorikan sebagai "variant of concern" oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Varian yang telah mengalami banyak mutasi itu pertama kali dilaporkan kepada WHO oleh Afrika Selatan pada Rabu (24/11), dan bukti-bukti awal menunjukkan ada risiko tinggi re-infeksi dengan varian tersebut.

Omicron ditemukan pada sebagian besar infeksi yang ditemukan di provinsi terpadat Afrika Selatan, Gauteng, dalam dua minggu terakhir, dan ia kini ada di provinsi-provinsi lainnya di negara tersebut.

WHO telah memperingatkan supaya negara-negara tidak terburu-buru menerapkan larangan perjalanan, dan mengatakan mereka harus mencari "pendekatan yang saintifik dan berbasis risiko".

Namun, sejumlah larangan telah diterapkan dalam beberapa hari terakhir di tengah kekhawatiran akan varian tersebut.

Kecaman Afrika Selatan

Dalam pidatonya pada Minggu (28/11), Ramaphosa mengatakan tidak ada dasar ilmiah untuk melarang perjalanan, dan bahwa Afrika Selatan adalah korban diskriminasi.

Ia juga berargumen bahwa larangan perjalanan tidak akan efektif dalam mencegah penyebaran varian baru ini.

Cyril Ramaphosa berpidato kepada rakyat Afrika Selatan.

Ramaphosa mengimbau rakyat Afrika Selatan untuk divaksinasi. (Reuters)

"Satu-satunya efek larangan perjalanan ialah semakin mencederai ekonomi negara-negara terdampak dan mengurangi kemampuan mereka untuk merespons, dan memulihkan diri dari, pandemi," ujarnya.

Ia meminta negara-negara yang sudah melarang perjalanan untuk "segera membatalkan keputusan mereka sebelum ada kerugian yang lebih besar pada ekonomi kami."

Ramaphosa menyebut kemunculan varian Omicron seyogianya menyadarkan dunia tentang ketidaksetaraan vaksin - peringatan bahwa sampai semua orang divaksinasi, kemunculan varian baru tak terelakkan.

Tidak ada kekurangan vaksin di Afrika Selatan sendiri, dan Ramaphosa meminta lebih banyak masyarakat untuk divaksinasi, mengatakan bahwa itu adalah cara terbaik melawan virus ini.

Pernyataan sebelumnya oleh Kementerian Luar Negeri Afrika Selatan pada Sabtu (27/11) juga mengkritik larangan perjalanan dengan keras, mengatakan bahwa Afsel dihukum - bukannya dipuji - dalam menemukan Omicron.

Pernyataan itu menambahkan bahwa reaksinya benar-benar berbeda ketika varian baru ditemukan di tempat lain di dunia.

Seorang pejabat Uni Afrika mengatakan kepada BBC bahwa negara-negara maju harus disalahkan atas munculnya varian tersebut.

"Apa yang terjadi saat ini tidak dapat dihindari, ini adalah akibat dari kegagalan dunia untuk memvaksinasi secara adil, mendesak dan cepat."

"Ini sebagai akibat dari penimbunan [vaksin] oleh negara-negara berpenghasilan tinggi di dunia, dan sejujurnya itu tidak dapat diterima," kata ketua bersama aliansi pengiriman vaksin Uni Afrika, Ayoade Alakija.

"Larangan perjalanan ini didasarkan pada politik, dan bukan pada sains. Itu salah ... Mengapa kita mengunci Afrika ketika virus ini sudah ada di tiga benua?"

Indonesia berlakukan larangan perjalanan

Pihak imigrasi RI mulai Senin (29/11) melarang masuk orang asing yang mempunyai riwayat perjalanan mengunjungi Afrika Selatan, Botswana, Namibia, Zimbabwe, Lesotho, Mozambique, Eswatini, dan Nigeria dalam kurun waktu 14 hari sebelum masuk Indonesia.

"Jika ada orang asing yang pernah berkunjung ke negara-negara tersebut dalam kurun waktu 14 hari ke belakang, maka akan langsung ditolak masuk Indonesia di Tempat Pemeriksaan Imigrasi," kata Kepala Bagian Humas dan Umum Ditjen Imigrasi, Arya Pradhana Anggakara, dalam pernyataan tertulis.

Ditjen Imigrasi juga menangguhkan sementara pemberian visa kunjungan dan visa tinggal terbatas bagi warga dari negara-negara tersebut.

Menurut Angga, kebijakan baru ini menyikapi dinamika munculnya varian baru COVID-19 B.1.1.529.

Covid

Beberapa kasus kini telah diidentifikasi di Eropa - dua di Inggris, dua di Jerman, satu di Belgia dan satu lagi di Italia, sementara kasus yang dicurigai ditemukan di Republik Ceko.

Israel, tempat varian baru itu telah dikonfirmasi, memutuskan untuk melarang semua orang asing memasuki negara tersebut mulai Minggu tengah malam.

Tindakan itu akan berlangsung selama 14 hari, menurut Times of Israel.

Kasus Omicron juga telah terdeteksi di Botswana, Hong Kong dan Israel.

Penumpang di Belanda

Pihak berwenang Belanda langsung melakukan pemeriksaan terhadap penumpang dalam penerbangan dari Afrika Selatan. (Reuters)

Ratusan penumpang yang tiba di Belanda dari Afrika Selatan langsung dites terkait varian baru itu.

Sebanyak 61 orang dari dua penerbangan KLM positif Covid-19 dan telah dikarantina di sebuah hotel dekat bandara Schiphol Amsterdam sementara mereka menjalani tes lebih lanjut, kata pejabat Belanda.

Dari 61 penumpang itu, Omicron telah terdeteksi pada 13 orang.

Belanda saat ini sedang berjuang dengan lonjakan kasus yang mencapai rekor. Lockdown sebagian diperpanjang dan mulai berlaku pada Minggu malam.

Varian baru Omicron pertama kali dilaporkan ke WHO dari Afrika Selatan pada 24 November.

Larangan masuk ke sejumlah negara

Pada hari Jumat dan Sabtu kemarin, sejumlah negara mengumumkan langkah-langkah baru:

Pengunjung dari Afrika Selatan, Namibia, Zimbabwe, Botswana, Angola, Mozambik, Malawi, Zambia, Lesotho, dan Eswatini tidak akan dapat memasuki Inggris Raya kecuali mereka adalah warga negara Inggris atau Irlandia, atau penduduk Inggris.

Para pejabat AS mengatakan akan melarang masuknya pendatang asing dari Afrika Selatan, Botswana, Zimbabwe, Namibia, Lesotho, Eswatini, Mozambik dan Malawi, yang mencerminkan langkah-langkah sebelumnya yang diambil oleh UE. Keputusan ini akan mulai berlaku pada hari Senin.

Australia mengumumkan pada hari Sabtu bahwa penerbangan dari Afrika Selatan, Namibia, Zimbabwe, Botswana, Lesotho, Eswatini, Seychelles, Malawi, dan Mozambik akan ditangguhkan selama 14 hari. Warga non-Australia yang telah berada di negara-negara tersebut dalam dua minggu terakhir kini dilarang memasuki Australia

Jepang telah mengumumkan bahwa mulai Sabtu, pelancong dari sebagian besar kawasan Afrika selatan perlu dikarantina selama 10 hari dan wajib menjalani empat kali tes selama periode itu.
India telah memerintahkan penapisan dan pengujian yang lebih ketat untuk pelancong yang datang dari Afrika Selatan, Botswana, dan Hong Kong

Kanada melarang semua warga negara asing yang telah melakukan perjalanan melalui Afrika Selatan, Namibia, Zimbabwe, Botswana, Lesotho, Eswatini atau Mozambik dalam 14 hari terakhir.

WHO mengatakan jumlah kasus varian ini, awalnya bernama B.1.1.529, tampaknya meningkat di hampir semua provinsi di Afrika Selatan.

"Varian ini memiliki sejumlah besar mutasi, beberapa di antaranya mengkhawatirkan," kata badan kesehatan masyarakat PBB dalam sebuah pernyataan, Jumat.

Dikatakan "infeksi B.1.1.529 pertama yang diketahui dikonfirmasi berasal dari spesimen yang dikumpulkan pada 9 November".

WHO mengatakan akan butuh waktu beberapa minggu untuk memahami dampak dari varian baru itu, karena para ilmuwan masih bekerja untuk menentukan seberapa besar menularnya.

Seorang pejabat tinggi kesehatan Inggris memperingatkan bahwa vaksin "hampir pasti" akan kurang efektif terhadap varian baru itu.

Tetapi Profesor James Naismith, seorang ahli biologi struktural dari Universitas Oxford, menambahkan: "Ini adalah berita buruk tetapi ini bukan berarti kiamat."

Kepala Asosiasi Medis Afrika Selatan mengatakan kepada BBC bahwa kasus yang ditemukan sejauh ini di Afrika Selatan - di mana baru sekitar 24% dari populasi yang sudah divaksinasi penuh - tidak parah, tetapi mengatakan penyelidikan terhadap varian tersebut masih pada tahap yang sangat awal.

"Para pasien kebanyakan mengeluh tubuh pegal-pegal dan mudah lelah, kelelahan yang luar biasa dan kami melihatnya pada orang-orang muda, bukan orang tua...tapi bukan berarti pasien mungkin langsung pergi ke rumah sakit dan dirawat," kata Dr Angelique Coetzee.

Kepala penyakit menular AS Dr Anthony Fauci mengatakan bahwa sementara laporan tentang varian baru itu telah memunculkan "peringatan", ada kemungkinan bahwa vaksin mungkin masih berfungsi untuk mencegah penyakit serius.

WHO sebelumnya telah memperingatkan negara-negara yang langsung memberlakukan pembatasan perjalanan dengan tergesa-gesa, dengan mengatakan mereka seharusnya melihat ke "pendekatan berbasis risiko dan ilmiah".

 

 

 

 

[]bazm

Sumber : detik.com




Untuk saran dan pemberian informasi kepada berazam.com, silakan kontak ke email: redaksi.berazam@gmail.com


Komentar Anda
Berita Terkait


About Us

Berazamcom, merupakan media cyber berkantor pusat di Kota Pekanbaru Provinsi Riau, Indonesia. Didirikan oleh kaum muda intelek yang memiliki gagasan, pemikiran dan integritas untuk demokrasi, dan pembangunan kualitas sumberdaya manusia. Kata berazam dikonotasikan dengan berniat, berkehendak, berkomitmen dan istiqomah dalam bersikap, berperilaku dan berperbuatan. Satu kata antara hati dengan mulut. Antara mulut dengan perilaku. Selengkapnya



Alamat Perusahaan

Alamat Redaksi

Perkantoran Grand Sudirman
Blok B-10 Pekanbaru Riau, Indonesia
  redaksi.berazam@gmail.com
  0761-3230
  www.berazam.com
Copyright © 2021 berazam.com - All Rights Reserved
Scroll to top