Senin, 13 Juli 2026

Breaking News

  • Ingin Tembus Perusahaan Multinasional? Intip Tips Alumni Universitas Pertamina   ●   
  • Lantik Pengurus KTNA Siak, Bupati Afni Tegaskan Pemda Siap Dampingi Petani dan Nelayan   ●   
  • Bubarkan Panitia HUT ke-6, Dumai Jadi Tuan Rumah HUT ke-7 JMSI Tahun 2027   ●   
  • Genjot PAD, Bupati Kampar Pimpin Rapat Percepatan Penerimaan PAD Tahun 2026   ●   
  • Bupati Ahmad Yuzar Sambut Kepulangan Jamaah Haji Kampar Kloter 05   ●   
Semua Mahal, Bank Dunia Ramal Inflasi RI Tembus 3,6 Persen Tahun Ini
Kamis 07 Juli 2022, 12:23 WIB
👁61498
Ilustrasi

Jakarta, berazamcom - Bank Dunia (World Bank) memproyeksi inflasi RI tembus 3,6 persen pada tahun ini. Hal itu dipicu lonjakan harga pangan dan energi yang terjadi setahun belakangan ini.

Proyeksi ini tertuang dalam laporan Bank Dunia bertajuk Indonesia Economic Prospects (IEP).

Seperti dilasnir dari cnn indonesia, Bank Dunia bahkan memperkirakan inflasi di Indonesia tetap tinggi sampai 2025 mendatang. Namun, lembaga internasional itu tak menyebut angka pasti inflasi RI dalam tiga tahun ke depan.

"Inflasi diproyeksikan meningkat menjadi 3,6 persen pada 2022 dan tetap tinggi hingga 2025," ungkap Bank Dunia dalam laporan tersebut, dikutip Rabu (6/7).

Lonjakan harga energi, kata Bank Dunia, membuat pemerintah menaikkan tarif listrik mulai Juli 2022. Tarif listrik resmi naik untuk golongan rumah tangga R2 dengan daya 3.500 VA sampai 5.500 VA, R3 dengan daya lebih dari 6.600 VA, dan kantor pemerintahan.

Jika inflasi benar naik dan tembus 3,6 persen tahun ini, Bank Dunia khawatir Bank Indonesia (BI) akan mengerek suku bunga acuan.

"Inflasi yang tinggi dapat mendorong sikap moneter menuju pengetatan lebih," kata Bank Dunia.

Namun, Bank Dunia mengingatkan agar BI tetap memperhatikan kondisi ekonomi domestik dalam menentukan kebijakan moneter.

Sebelumnya, Gubernur BI Perry Warjiyo memproyeksi inflasi RI tembus 4,2 persen pada 2022. Namun, ia menilai angka itu masih terkendali dibandingkan negara lain.

Padahal, beberapa negara telah menaikkan anggaran subsidi untuk menekan lonjakan harga. Dengan harapan, inflasi di negara tersebut bisa lebih stabil.

"Kami sampaikan bahwa BI terus mencermati risiko tekanan inflasi ke depan, ekspektasi inflasi dan dampak ke inflasi inti dan akan menempuh normalisasi kebijakan moneter lanjutan sesuai data dan kondisi berkembang," pungkas Perry. (*)




Untuk saran dan pemberian informasi kepada berazam.com, silakan kontak ke email: [email protected]


Komentar Anda
Berita Terkait
 
 


Copyright © 2021 berazam.com - All Rights Reserved
Scroll to top