Yanto BudimanPartai Golkar, yang sejak awal berdirinya mengalami berbagai dinamika, kini kembali menjadi pusat perhatian publik. Dulu, Golkar adalah kekuatan politik utama yang memengaruhi arah politik nasional. Namun, situasinya kini berubah drastis. Partai yang pernah menjadi simbol kekuatan politik tersebut kini terlihat rapuh dan terancam kehilangan dukungan rakyat. Dalam pandangan publik, Golkar tampaknya telah menjadi "barang bekas" yang kurang diminati di pasar politik.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan kemerosotan Golkar. Pertama, partai ini sangat rentan terhadap pengaruh luar. Terutama, pengaruh dari Presiden Jokowi yang tengah berusaha memperkuat posisinya setelah masa kepresidenannya berakhir pada Oktober mendatang. Langkah-langkah strategis Jokowi, termasuk tekanan politik yang dihadapi Ketua Umum DPP Partai Golkar, Airlangga Hartarto, yang baru-baru ini terpaksa mundur, jelas menunjukkan adanya dinamika yang memengaruhi kestabilan Golkar.
Kedua, sosok calon Ketua Umum DPP Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, juga menjadi sorotan. Meskipun memiliki kekayaan pribadi yang cukup besar dan dukungan Jokowi, Bahlil dinilai kurang memiliki kapabilitas yang diperlukan untuk memimpin Golkar dengan efektif. Keberaniannya sering kali tidak disertai dengan kebijaksanaan, seperti terlihat dalam berbagai kontroversi, termasuk proyek Rempang dan pencabutan IUP yang tidak berada dalam kewenangannya.
Ketiga, ada anggapan bahwa kemerosotan Golkar mungkin merupakan akibat dari "kutukan" para pendirinya atau dampak dari penyusupan politik yang meresahkan. Meskipun hal ini masih bersifat spekulatif, kekhawatiran tentang kemungkinan terjadinya pergeseran ideologi di tubuh Golkar terus berkembang di kalangan pengamat politik.
Meskipun demikian, opini publik saat ini lebih cenderung negatif terhadap Golkar. Dulu, partai ini dikenal kokoh dan sulit digoyang. Kini, Golkar menghadapi tantangan besar yang bisa membuatnya semakin terpuruk atau bahkan kehilangan dukungan yang selama ini dimilikinya. Ibarat barang bekas, Golkar tampaknya semakin tidak laku di pasar politik.
Kita harus menunggu hasil proses politik yang rencananya dimulai dari Rapimnas kemudian dilanjutkan dengan Munaslub dipercepat pada 20 Agustus 2024 untuk melihat apakah Bahlil Lahadalia dapat mengambil alih kepemimpinan Golkar atau jika akan ada kejutan politik lain yang bisa mengubah arah partai ini. Hanya waktu yang akan menjawab.
Penulis adalah wartawan senior di Riau dan Wakil Pimpinan Umum berazamcom, serta Ketua Pro Jurnalismedia Siber (PJS) Riau.


